Tampilkan postingan dengan label ahmadiyya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ahmadiyya. Tampilkan semua postingan

31 Mei 2010

BETAPA panjang hari-hari duka ini, ya Ilahi...!!

BETAPA panjang hari-hari duka ini, ya Ilahi;
Tumpah lagi darah suci ke atas suci ke atas Anak Benua;
Ikhwan, tahukah kamu darah suci itu?;
Patisari infaq;
Ruh kuat karena penyembahan;
Hati lembut karena doa dan pengabdian.

BETAPA PANJANG hari-hari duka ini, ya Ilahi;
Ratapan dinding tinggi kembali manyayat kalbu;
Melepas parade ruh ke langit zaman;
Pengawalan bidadari bermata jeli;

BETAPA panjang hari-hari duka ini, ya Ilahi;
Jejak-Mu semakin jauh melangkah;
Meninggalkan bayang-bayang panjang;
Sementara kami masih berkubang;
Bersama belatung-belatung dunia.[] (AADP)

30 Mei 2010

"HARUSKAH memang darah para kekasih-Mu itu membasahi lagi bumi-Mu ini?"; Renungan Tragedi Lahore 2010




HARUSKAH memang darah para kekasih-Mu itu membasahi lagi bumi-Mu ini?

HARUSKAH memang air mata ini mengalir tiada henti untuk membilas dosa para durjana?

SUDAH BERBILANG windu hati meratapi para syuhada rebah bergelombang mencium bumi-Mu tiada jeda;

MEREKA tersenyum menyambut piala syahid mereka;

TAPI, KUASA INSANI kami tak kuat menahan ini, yaa Ilahi;

SAMPAI KAPAN "ENGKAU" akan berpangku tangan tak bergeming?

APAKAH kami harus meminjam sabda Sang Mursalin? "Jika Engkau membiarkan musnah hamba-hamba-Mu ini,

"MAKA TIADA LAGI MAKHLUK YANG AKAN TULUS MENYEMBAH-MU DI MUKA BUMI INI!!"[]

(Renungan Tragedi Lahore; Cimanuk, Pandeglang, Banten, 28 Mei 2010; AADP)
Foto-foto silde ada di http://tinyurl.com/2wp8j9p

24 Mei 2010

[Panen Hati di Ladang Rabtah/PHDLR] Tiga kelompok anak bangsa yang merepresentasikan nilai-nilai konstitusi jiwa kebangsaan mereka...

Kharijnas H.A. Mubarik Ahmad, S.H. kemarin (21/5) di Jakarta, "Prahara Parung 2005, langsung memetakan kepada kita; setidaknya, tiga kelompok anak bangsa yang merepresentasikan nilai-nilai konstitusi jiwa kebangsaan mereka.

"Pertama, kelompok berpandangan absolut; bahwa, semua kelompok yang tidak sepaham dengan kelompoknya tidak pantas untuk hidup berdampingan di negara republik ini.

"Kedua, siapa pun warga bangsa, dia berhak hidup sejajar dengan warga bangsa lain.

"Ketiga, kelompok yang tidak bersikap karena memang tidak tahu dan tidak juga peduli apa sebenarnya alasan substansial dari pergolakan-pergolakan yang mengatasnamakan agama dan pemurnian agama ini.

"Sikap 'anomali' pemerintah membantu proses pengentalan pandangan dari kelompok pertama dan kedua. Kelompok ketiga, menurut beberapa penelitian, cenderung ke kelompok kedua setelah pers nasional mainstream nasionalis kebangsaan mengambil sikap: Selamatkan bangsa dari radikalisme yang akan membawa bangsa kepada kategori 'negara gagal'."[] (AADP)

23 Mei 2010

[Panen Hati di Ladang Rabtah/PHDLR] Upaya rabtah yang "dipaksa"...

Suatu hari, Sayyidina Abu Bakar r.a. berkata, "Sesungguhnya, aku telah mengatur urusan kamu, tetapi aku bukanlah orang yang paling baik di kalangan kamu. Maka, berilah pertolongan kepadaku. Kalau aku bertindak lurus, maka ikutilah aku. Tapi, kalau aku menyeleweng, betulkan aku!"

Kekharijiahan, pasca prahara Parung ini demikian strategisnya. Hampir semua kekuatan dikerahkan ke sana. Prahara ini menelan social cost yang amat besar, terbesar sepanjang sejarah Jemaat di Indonesia. Kesungguhan mengatasi kemelut, muncul di semua strata.

Prahara besar itu tak kuasa tertangani baik karena miskinnya pengalaman dan SDM yang tak siap menjadikan upaya raftah/rabtah "dipaksa" dengan konsep "meloncat dari atas tebing ke bawah sambil merajut sayap".

Untuk meminimalisir diviasi, Sekretaris PB JAI (Kharijnas) H.A. Mubarik Ahmad, S.H. dengan sahabat-sahabat terus-menerus mengkaji persoalan-persoalan mendasar.

Ucapan Hadhrat Abu Bakar r.a. di atas menjadi sumber inspirasi di lapangan [pengkhidmatan].[] (AADP)

21 Mei 2010

[Panen Hati di Ladang Rabtah] Raftah atau Rabithah Bermanfaat bagi Jemaah di Berbagai Tataran

*Rabtah/Raftah*

Dari Attaurrab Soekamto (Sekr. PMB JAI-Serua), Tangerang Selatan: Kata 'raftah' dalam kamus bahasa Urdu artinya, "mabuk, fana, asyik." Untuk kata 'rabtah', kamus Urdu mengartikan sebagai 'hubungan'.

(Ingat "Rabithah 'Alam Islami"...??). :-)

"Apa pun makna yang akan diambil dari Raftah atau Rabithah itu, akan bermanfaat bagi jemaah di berbagai tataran, baik jemaah sebagai institusi maupun pada jemaah secara personal," Kharijiah Nasional H.A. Mubarik Ahmad, S.H. mengatakan di kantornya Gedung Citylofts Jakarta sesaat sebelum ke Wahid Institut Jakarta Pusat, Kamis (20/5).

"Secara alamiah, di mana saja, jemaah sudah melaksanakan makna raftah dan rabithah ini. Bahwa penekanannya baru ditekankan setelah Prahara Mubarak Parung medio 2005 lalu itu," tambah Kharijnas.[] (AADP)

18 Mei 2010

Panen Hati di Ladang Rabtah (2/2)

Kepergian seseorang yang amat dekat di hati, tak pelak membuat suatu kekosongan di alam berkesadaran. Ini nampaknya yang dialami Bang Buyung kemarin dengan kepergian putra sulungnya, Iken (54 tahun).

Presiden SBY dan Ibu Negara sendiri hadir melayat. Para Menteri, tokoh sipil, politisi, dan militer, artis dan selebrita, membaur di rumah duka hingga ke pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Aliansi, pejuang HAM dan Kelompok Minoritas, yang terakhir ini Bang Buyung bela dengan segenap daya dan kemampuan,makin membuahkan banyak simpati. Dan manakala dtang duka menimpa jiwa, tabungan kebaikan itu datang bagai air bah, tak terbendung.

Kharijiah Nasional H.A. Mubarik Ahmad, adalah representasi dari kelompok minoritas ini. Tapi, apa istimewanya sehingga ia nampaknya bisa mengisi kehampaan yang ditinggal duka di relung hati Bang Buyung.

"Tidak ada yang pribadi. Semuanya berkat Masih Mau'ud," ungkap Kharijnas. "Semuanya dari hati yang menyinta untuk semua."[]