Kharijnas H.A. Mubarik Ahmad, S.H. kemarin (21/5) di Jakarta, "Prahara Parung 2005, langsung memetakan kepada kita; setidaknya, tiga kelompok anak bangsa yang merepresentasikan nilai-nilai konstitusi jiwa kebangsaan mereka.
"Pertama, kelompok berpandangan absolut; bahwa, semua kelompok yang tidak sepaham dengan kelompoknya tidak pantas untuk hidup berdampingan di negara republik ini.
"Kedua, siapa pun warga bangsa, dia berhak hidup sejajar dengan warga bangsa lain.
"Ketiga, kelompok yang tidak bersikap karena memang tidak tahu dan tidak juga peduli apa sebenarnya alasan substansial dari pergolakan-pergolakan yang mengatasnamakan agama dan pemurnian agama ini.
"Sikap 'anomali' pemerintah membantu proses pengentalan pandangan dari kelompok pertama dan kedua. Kelompok ketiga, menurut beberapa penelitian, cenderung ke kelompok kedua setelah pers nasional mainstream nasionalis kebangsaan mengambil sikap: Selamatkan bangsa dari radikalisme yang akan membawa bangsa kepada kategori 'negara gagal'."[] (AADP)
Tampilkan postingan dengan label agus mubarik ahmad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agus mubarik ahmad. Tampilkan semua postingan
24 Mei 2010
23 Mei 2010
[Panen Hati di Ladang Rabtah/PHDLR] Upaya rabtah yang "dipaksa"...
Suatu hari, Sayyidina Abu Bakar r.a. berkata, "Sesungguhnya, aku telah mengatur urusan kamu, tetapi aku bukanlah orang yang paling baik di kalangan kamu. Maka, berilah pertolongan kepadaku. Kalau aku bertindak lurus, maka ikutilah aku. Tapi, kalau aku menyeleweng, betulkan aku!"
Kekharijiahan, pasca prahara Parung ini demikian strategisnya. Hampir semua kekuatan dikerahkan ke sana. Prahara ini menelan social cost yang amat besar, terbesar sepanjang sejarah Jemaat di Indonesia. Kesungguhan mengatasi kemelut, muncul di semua strata.
Prahara besar itu tak kuasa tertangani baik karena miskinnya pengalaman dan SDM yang tak siap menjadikan upaya raftah/rabtah "dipaksa" dengan konsep "meloncat dari atas tebing ke bawah sambil merajut sayap".
Untuk meminimalisir diviasi, Sekretaris PB JAI (Kharijnas) H.A. Mubarik Ahmad, S.H. dengan sahabat-sahabat terus-menerus mengkaji persoalan-persoalan mendasar.
Ucapan Hadhrat Abu Bakar r.a. di atas menjadi sumber inspirasi di lapangan [pengkhidmatan].[] (AADP)
Kekharijiahan, pasca prahara Parung ini demikian strategisnya. Hampir semua kekuatan dikerahkan ke sana. Prahara ini menelan social cost yang amat besar, terbesar sepanjang sejarah Jemaat di Indonesia. Kesungguhan mengatasi kemelut, muncul di semua strata.
Prahara besar itu tak kuasa tertangani baik karena miskinnya pengalaman dan SDM yang tak siap menjadikan upaya raftah/rabtah "dipaksa" dengan konsep "meloncat dari atas tebing ke bawah sambil merajut sayap".
Untuk meminimalisir diviasi, Sekretaris PB JAI (Kharijnas) H.A. Mubarik Ahmad, S.H. dengan sahabat-sahabat terus-menerus mengkaji persoalan-persoalan mendasar.
Ucapan Hadhrat Abu Bakar r.a. di atas menjadi sumber inspirasi di lapangan [pengkhidmatan].[] (AADP)
Labels:
agus mubarik ahmad,
ahmadiyah,
ahmadiyya,
hadhrat abu bakar r.a.,
jai,
rabithah,
raftah
21 Mei 2010
[Panen Hati di Ladang Rabtah] Raftah atau Rabithah Bermanfaat bagi Jemaah di Berbagai Tataran
*Rabtah/Raftah*
Dari Attaurrab Soekamto (Sekr. PMB JAI-Serua), Tangerang Selatan: Kata 'raftah' dalam kamus bahasa Urdu artinya, "mabuk, fana, asyik." Untuk kata 'rabtah', kamus Urdu mengartikan sebagai 'hubungan'.
(Ingat "Rabithah 'Alam Islami"...??). :-)
"Apa pun makna yang akan diambil dari Raftah atau Rabithah itu, akan bermanfaat bagi jemaah di berbagai tataran, baik jemaah sebagai institusi maupun pada jemaah secara personal," Kharijiah Nasional H.A. Mubarik Ahmad, S.H. mengatakan di kantornya Gedung Citylofts Jakarta sesaat sebelum ke Wahid Institut Jakarta Pusat, Kamis (20/5).
"Secara alamiah, di mana saja, jemaah sudah melaksanakan makna raftah dan rabithah ini. Bahwa penekanannya baru ditekankan setelah Prahara Mubarak Parung medio 2005 lalu itu," tambah Kharijnas.[] (AADP)
Dari Attaurrab Soekamto (Sekr. PMB JAI-Serua), Tangerang Selatan: Kata 'raftah' dalam kamus bahasa Urdu artinya, "mabuk, fana, asyik." Untuk kata 'rabtah', kamus Urdu mengartikan sebagai 'hubungan'.
(Ingat "Rabithah 'Alam Islami"...??). :-)
"Apa pun makna yang akan diambil dari Raftah atau Rabithah itu, akan bermanfaat bagi jemaah di berbagai tataran, baik jemaah sebagai institusi maupun pada jemaah secara personal," Kharijiah Nasional H.A. Mubarik Ahmad, S.H. mengatakan di kantornya Gedung Citylofts Jakarta sesaat sebelum ke Wahid Institut Jakarta Pusat, Kamis (20/5).
"Secara alamiah, di mana saja, jemaah sudah melaksanakan makna raftah dan rabithah ini. Bahwa penekanannya baru ditekankan setelah Prahara Mubarak Parung medio 2005 lalu itu," tambah Kharijnas.[] (AADP)
20 Mei 2010
[Panen Hati di Ladang Rabtah] 'Fantasi Religius', Suatu Wujud Kealpaan
"Merasa sebatang kara di bumi republik ini", inilah perasaan yang membalut hati, pikiran dan jiwa jemaah dari segala lapisan, mengiringi asap tebal yang menghangusbumiratakan mesjid di Desa Parkansalak, Kec. Parakansalak, Kab. Sukabumi, Prov. Jawa Barat.
Sebut saja bahwa mesjid ini mewakili 'rumah Allah' dan segala fasilitas penunjangnya yang raib ke bumi bunda, berputih tulang. Prahara lima tahun silam, menghentak kesadaran kolektif kita, bahwa keberadaan ini digugat oleh sesama anak bangsa. Entah dengan alasan apa pun. Termasuk, alasan-alasan yang sebenarnya tak lebih dari menguatnya--apa yang kadang [bisa] disebut oleh para pemerhati sebagai--'fantasi religius'. "Kondisi inilah yang membangunkan kita dari lamunan, bahwasanya ada sesuatu wujud kealpaan yang mengiringi pertumbuhan Jemaah Ilahi ini." Ini diungkap Kharijiah (Humas) Nasional A. Mubarik, S.H. di kantornya Gedung Citylof kawasan Sudirman, Jakarta, kemarin.
Komisaris dari P.T. BGI-CNG Provider ini optimis.[] (Foto² ada di atau dari Blog Isa)
19 Mei 2010
[Panen Hati di Ladang Rabtah] Bersama dengan beberapa Dutabesar Negara Sahabat dan para Diplomat Negara-negara G7
"...Tiada bencana yang lebih besar daripada meremehkan musuh." (Lao Zi, 500 SM)
Kelompok minoritas tak pernah punya musuh. Tapi yang memusuhi kelompok marjinal ini teramat banyak dan bukan dari siapa-siapa: Sesama anak bangsa sendiri.
Belajar dari nasihat indah dari Nabi Lao Zi, filsuf terbesar pertama dalam sejarah klasik Tiongkok kuno ini, Kharijnas A. Mubarik Ahmad, S.H. dan dengan seluruh jajarannya di wilayah dan daerah amat sering mengingatkan agar terus membangun spirit kebersamaan kaum minoritas dan menjahit kebersamaan ini bagi seluruh elemen bangsa.
Musuh kaum minoritas adalah pikiran-pikiran yang mewujud dalam "tirani" mayoritas. Pikiran-pikiran inilah yang akan mewujud menjadi bencana kebangsaan bila hal-hal ini dianggap remeh, kata Kharijnas dalam temu muka dengan beberapa dutabesar negara sahabat dan para diplomat negara-negara G7 pekan lalu di Jakarta.[]
Kelompok minoritas tak pernah punya musuh. Tapi yang memusuhi kelompok marjinal ini teramat banyak dan bukan dari siapa-siapa: Sesama anak bangsa sendiri.
Belajar dari nasihat indah dari Nabi Lao Zi, filsuf terbesar pertama dalam sejarah klasik Tiongkok kuno ini, Kharijnas A. Mubarik Ahmad, S.H. dan dengan seluruh jajarannya di wilayah dan daerah amat sering mengingatkan agar terus membangun spirit kebersamaan kaum minoritas dan menjahit kebersamaan ini bagi seluruh elemen bangsa.
Musuh kaum minoritas adalah pikiran-pikiran yang mewujud dalam "tirani" mayoritas. Pikiran-pikiran inilah yang akan mewujud menjadi bencana kebangsaan bila hal-hal ini dianggap remeh, kata Kharijnas dalam temu muka dengan beberapa dutabesar negara sahabat dan para diplomat negara-negara G7 pekan lalu di Jakarta.[]
18 Mei 2010
Panen Hati di Ladang Rabtah (2/2)
Kepergian seseorang yang amat dekat di hati, tak pelak membuat suatu kekosongan di alam berkesadaran. Ini nampaknya yang dialami Bang Buyung kemarin dengan kepergian putra sulungnya, Iken (54 tahun).
Presiden SBY dan Ibu Negara sendiri hadir melayat. Para Menteri, tokoh sipil, politisi, dan militer, artis dan selebrita, membaur di rumah duka hingga ke pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
Aliansi, pejuang HAM dan Kelompok Minoritas, yang terakhir ini Bang Buyung bela dengan segenap daya dan kemampuan,makin membuahkan banyak simpati. Dan manakala dtang duka menimpa jiwa, tabungan kebaikan itu datang bagai air bah, tak terbendung.
Kharijiah Nasional H.A. Mubarik Ahmad, adalah representasi dari kelompok minoritas ini. Tapi, apa istimewanya sehingga ia nampaknya bisa mengisi kehampaan yang ditinggal duka di relung hati Bang Buyung.
"Tidak ada yang pribadi. Semuanya berkat Masih Mau'ud," ungkap Kharijnas. "Semuanya dari hati yang menyinta untuk semua."[]
Presiden SBY dan Ibu Negara sendiri hadir melayat. Para Menteri, tokoh sipil, politisi, dan militer, artis dan selebrita, membaur di rumah duka hingga ke pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
Aliansi, pejuang HAM dan Kelompok Minoritas, yang terakhir ini Bang Buyung bela dengan segenap daya dan kemampuan,makin membuahkan banyak simpati. Dan manakala dtang duka menimpa jiwa, tabungan kebaikan itu datang bagai air bah, tak terbendung.
Kharijiah Nasional H.A. Mubarik Ahmad, adalah representasi dari kelompok minoritas ini. Tapi, apa istimewanya sehingga ia nampaknya bisa mengisi kehampaan yang ditinggal duka di relung hati Bang Buyung.
"Tidak ada yang pribadi. Semuanya berkat Masih Mau'ud," ungkap Kharijnas. "Semuanya dari hati yang menyinta untuk semua."[]
Langganan:
Postingan (Atom)