Suatu hari, Sayyidina Abu Bakar r.a. berkata, "Sesungguhnya, aku telah mengatur urusan kamu, tetapi aku bukanlah orang yang paling baik di kalangan kamu. Maka, berilah pertolongan kepadaku. Kalau aku bertindak lurus, maka ikutilah aku. Tapi, kalau aku menyeleweng, betulkan aku!"
Kekharijiahan, pasca prahara Parung ini demikian strategisnya. Hampir semua kekuatan dikerahkan ke sana. Prahara ini menelan social cost yang amat besar, terbesar sepanjang sejarah Jemaat di Indonesia. Kesungguhan mengatasi kemelut, muncul di semua strata.
Prahara besar itu tak kuasa tertangani baik karena miskinnya pengalaman dan SDM yang tak siap menjadikan upaya raftah/rabtah "dipaksa" dengan konsep "meloncat dari atas tebing ke bawah sambil merajut sayap".
Untuk meminimalisir diviasi, Sekretaris PB JAI (Kharijnas) H.A. Mubarik Ahmad, S.H. dengan sahabat-sahabat terus-menerus mengkaji persoalan-persoalan mendasar.
Ucapan Hadhrat Abu Bakar r.a. di atas menjadi sumber inspirasi di lapangan [pengkhidmatan].[] (AADP)
Tampilkan postingan dengan label raftah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label raftah. Tampilkan semua postingan
23 Mei 2010
21 Mei 2010
[Panen Hati di Ladang Rabtah] Raftah atau Rabithah Bermanfaat bagi Jemaah di Berbagai Tataran
*Rabtah/Raftah*
Dari Attaurrab Soekamto (Sekr. PMB JAI-Serua), Tangerang Selatan: Kata 'raftah' dalam kamus bahasa Urdu artinya, "mabuk, fana, asyik." Untuk kata 'rabtah', kamus Urdu mengartikan sebagai 'hubungan'.
(Ingat "Rabithah 'Alam Islami"...??). :-)
"Apa pun makna yang akan diambil dari Raftah atau Rabithah itu, akan bermanfaat bagi jemaah di berbagai tataran, baik jemaah sebagai institusi maupun pada jemaah secara personal," Kharijiah Nasional H.A. Mubarik Ahmad, S.H. mengatakan di kantornya Gedung Citylofts Jakarta sesaat sebelum ke Wahid Institut Jakarta Pusat, Kamis (20/5).
"Secara alamiah, di mana saja, jemaah sudah melaksanakan makna raftah dan rabithah ini. Bahwa penekanannya baru ditekankan setelah Prahara Mubarak Parung medio 2005 lalu itu," tambah Kharijnas.[] (AADP)
Dari Attaurrab Soekamto (Sekr. PMB JAI-Serua), Tangerang Selatan: Kata 'raftah' dalam kamus bahasa Urdu artinya, "mabuk, fana, asyik." Untuk kata 'rabtah', kamus Urdu mengartikan sebagai 'hubungan'.
(Ingat "Rabithah 'Alam Islami"...??). :-)
"Apa pun makna yang akan diambil dari Raftah atau Rabithah itu, akan bermanfaat bagi jemaah di berbagai tataran, baik jemaah sebagai institusi maupun pada jemaah secara personal," Kharijiah Nasional H.A. Mubarik Ahmad, S.H. mengatakan di kantornya Gedung Citylofts Jakarta sesaat sebelum ke Wahid Institut Jakarta Pusat, Kamis (20/5).
"Secara alamiah, di mana saja, jemaah sudah melaksanakan makna raftah dan rabithah ini. Bahwa penekanannya baru ditekankan setelah Prahara Mubarak Parung medio 2005 lalu itu," tambah Kharijnas.[] (AADP)
Langganan:
Postingan (Atom)