Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

21 Mei 2010

[Panen Hati di Ladang Rabtah] Raftah atau Rabithah Bermanfaat bagi Jemaah di Berbagai Tataran

*Rabtah/Raftah*

Dari Attaurrab Soekamto (Sekr. PMB JAI-Serua), Tangerang Selatan: Kata 'raftah' dalam kamus bahasa Urdu artinya, "mabuk, fana, asyik." Untuk kata 'rabtah', kamus Urdu mengartikan sebagai 'hubungan'.

(Ingat "Rabithah 'Alam Islami"...??). :-)

"Apa pun makna yang akan diambil dari Raftah atau Rabithah itu, akan bermanfaat bagi jemaah di berbagai tataran, baik jemaah sebagai institusi maupun pada jemaah secara personal," Kharijiah Nasional H.A. Mubarik Ahmad, S.H. mengatakan di kantornya Gedung Citylofts Jakarta sesaat sebelum ke Wahid Institut Jakarta Pusat, Kamis (20/5).

"Secara alamiah, di mana saja, jemaah sudah melaksanakan makna raftah dan rabithah ini. Bahwa penekanannya baru ditekankan setelah Prahara Mubarak Parung medio 2005 lalu itu," tambah Kharijnas.[] (AADP)

18 Mei 2010

Panen Hati di Ladang Rabtah (2/2)

Kepergian seseorang yang amat dekat di hati, tak pelak membuat suatu kekosongan di alam berkesadaran. Ini nampaknya yang dialami Bang Buyung kemarin dengan kepergian putra sulungnya, Iken (54 tahun).

Presiden SBY dan Ibu Negara sendiri hadir melayat. Para Menteri, tokoh sipil, politisi, dan militer, artis dan selebrita, membaur di rumah duka hingga ke pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Aliansi, pejuang HAM dan Kelompok Minoritas, yang terakhir ini Bang Buyung bela dengan segenap daya dan kemampuan,makin membuahkan banyak simpati. Dan manakala dtang duka menimpa jiwa, tabungan kebaikan itu datang bagai air bah, tak terbendung.

Kharijiah Nasional H.A. Mubarik Ahmad, adalah representasi dari kelompok minoritas ini. Tapi, apa istimewanya sehingga ia nampaknya bisa mengisi kehampaan yang ditinggal duka di relung hati Bang Buyung.

"Tidak ada yang pribadi. Semuanya berkat Masih Mau'ud," ungkap Kharijnas. "Semuanya dari hati yang menyinta untuk semua."[]

05 Mei 2010

Mengenang Ibu Wahid

Ibnu`s-Sabîl wa`l-Masâkîn


From the album 'Nenek ku' by Nanen Lariza. http://tinyurl.com/29nh7xm


IBU Wahid sangat dikenal dekat dengan orang-orang miskin. Beliau suka menyebut mereka sebagai orang-orang yang dikasihi Tuhan.

Suatu hari, menjelang Hari Raya Idul Fitri di tahun 1996, saya mampir di Mesjid Hidayat Petojo Utara, Jakarta Pusat. Khaddim mesjid, Mang Udin bilang ke saya bahwa saya dicari Ibu Wahid. Saya sudah tahu bahwa akan ada hadiah lebaran, seperti biasanya. Oleh menantu cucunya, A. Mubarik Ahmad S.H. juga menyampaikan demikian. Maka, hari itu juga, saya ke rumah beliau di Jalan Kedondong, Ciledug, Tangerang, Banten.

Sesampainya di Kedondong, Ibu Wahid memberikan sejumlah amplop yang berisi uang yang akan ditujukan ke beberapa fakir miskin di Kramat, Gunung Cupu, Cimanuk, Pandeglang, Banten, sebuah desa di mana pusat Jemaat dan pertablighan di Banten Selatan berada.

Tak lama kemudian, datang pula Yusja Hasyim, kini Anshar Lentengagung, bersama Anung Nurhakim, anshar juga tinggal di Kramatjati, Jakarta Timur. Kami memang bertiga selalu dipanggil ke Kedondong bila beliau ingin bersedekah ke orang-orang kecil. Melihat ramai orang, sejumlah cucu beliau, yang kira-kira berumur 10 tahunan, laki-laki dan perempuan, mengerumni kami. Sadat Ahmad, seorang cucunya, putra dari Raisuttabligh JAI Maulana H. Sayuti Aziz Ahmad, Sy., bertanya, "Siapa sih orang-orang ini yang nenek suka kasih hadiah?"

Beliau melihat satu persatu cucunya yang diam dan menginginkan jawaban layaknya anak-anak. Tidak lama, Ibu Wahid bilang, "Mereka ini adalah Ibnu `s-Sabîl wa `l-Masâkîn."

Mendengar 'pangkat' orang bertiga ini yang diucapkan neneknya dalam bahasa Arab, Sadat Ahmad manggut-manggut, dan sesama cucunya Ibu Wahid saling berpandangan. Saya, Yusja dan Anung kemudian saling berpandangan. Cucunya, kemudian pergi satu-satu setelah salaman dengan kami dengan mencium tangan. "Ibnu `s-Sabîl wa `l-Masâkîn...!!", kata Sadat Ahmad setengah kagum. Kami pun pulang ke tempat masing-masing.

Suatu hari, setelah Lebaran, Anung bertanya kepada saya, "Kak Rahim, julukan kita oleh Ibu Wahid, Ibnu `s-Sabîl wa `l-Masâkîn, apa sih artinya?"

Kata saya kepada Anung, "Kurang lebih-lah, Anung, orang-orang jalanan dan orang-orang miskin. Maka, meledaklah tawa Anung, mendengar pangkatnya yang menjadikan cucu-cucu Ibu Wahid manggut-manggut.


SABTU pagi, 17 April 2010, pukul 07.15 WIB di Jalan Kedondong, Ciledug, Tangerang. Tokoh Lajnah Imaillah senior, istri Mubalig senior yang dari rahimnya telah lahir 12 putra-putri sebagai khaddim-khaddim Jemaat ini, dua pekan silam, berpulang ke rahmatullah. Kami dari kelompok yang beliau sebut Ibnu `s-Sabîl wa `l-Masâkîn, tunduk terenyuh. Beliau arif dan amat bijak mengasihi orang-orang kecil ini telah tiada. Beliau menempati peristirahatannya yang terakhir di Pemakamam Mushi-mushiah Parung, Bogor, Jawa Barat. Beliau pergi menghadap Tuhan-nya di Langit sana. Ibu Hj. Taslimah Ahmaddjajadi-Wahid mengukir jejak-jejak kakinya di Bumi hingga ke teras Langit. Innâ li `l-Lâhi wa `innâ ilaihi rôji'ûn.[] (AADP)

26 Agustus 2007

Bung Karno, Malik Aziz Ahmad Khan, A. Hassan dan Surabaya


"Saya (Ny. Netty Partakoesoema) mendampingi Suami (Amin Martakoesoemah) sebagai Kapolres Bangil (Jatim) sebelum pindah ke Jambi, Sumatera (1952 - 1956). Tinggal di Bangil dengan anak-anak yang yang masih kecil (Ninik, Rita, Riki, Ade.Riki dan Ade lahir di Bangil) Sebagai keluarga pejabat daerah memungkinkan saya untuk mengenal hampir semua tokoh masyarakat di Bangil dan beberapa tokoh di Surabaya. Saya sering ke Surabaya dan menyempatkan diri ke Mesjid Jemaat di Jl. Bubutan.

Saya dan Bapak sering bersilaturrahmi dengan Bapak Maulana Malik Aziz Ahmad Khan (rahimaullahu alaih). Saya sering menemukan beliau seorang diri di Mesjid itu dengan segala kesederhanaannya.Keluaraga beliau ditinggal di Jawa barat. Dapur dan segala prabotannya termasuk makanannya yang sangat sederhana. Kompor minyak tanah satu dan sudah tua, piring hanya tiga buah, sendok-sendok 'kodok' sederhana yang terbuat dari seng.Emberkaleng dan gayung kaleng, bekas mentega "palemboom". Ada sepeda tua yang selalu parkir dekat pintu mesjid yang juga berdempetan dengan rumah Bapak Abdoel Gafur. Jika kami datang silaturrahmi kepada beliau, beliau selalu sibuk dan pergi dengan sepedanya membeli makanan kecil untuk kami. Meskipun kami melarang beliau untuk tidak repot-repot.

Tidak jarang saya diam-diam meneteskan airmata melihat kesederhanan hidup Sang Mujahid ini dalam mengembang dakwah Hadhrat Imam Mahdi a.s. di kawasan Jawa Timur. Saya memanggil Maulana Malik dengan sapaan "Om" karena kebiasaan keluarga kami di Jawa Barat. Kami pernah tinggal di Bandung, Garut, Bogor, Sukabumi dan Jakarta. Papi pejabat di PU dari zaman kolonial hingga era kemerdekaan. Sedang asal Papi dari Keluarga Galuh Ciamis. Papi saya, Ir. Gumiwa Partakoesoma (alm), seingat saya sering bahu membahu dengan banyak bapak muballigh markazi awal di Jawa Barat dan Jakarta. Termasuk Maulana Malik. Saya pernah mengikuti Tabligh Akbar dan beliau sebagai pembicara tunggal di suatu gedung bersejarah yang megah di Surabaya.

Pada saat-saat tertentu, Maulana Malik datang ke Bangil dan menginap di rumah. Rumah memang tempatnya para pejabat daerah untuk bersilaturrahmi termasuk tokoh-tokoh agama. Dari sekian tokoh yang sering datang ke rumah adalah Tuan A. Hasan, lawan debat Maulana Rahmat Ali HA OT di Gang Kenari Jakarta, 1933. Tuan A.Hasan sering minta berbagai macam sumbangan termasuk menjual buku-buku dan majalah terbitan Persis (Persatuan Islam). Saya sendiri tidak mengatahui cerita ini pada awalnya, karena masa itu, kata Papi Gumiwa saya baru bisa berjalan. Ini cerita Papi Gumiwa.

Kepada Bapak Amin, suami saya, Tuan A. Hasan sering menghadiahkan Majalah Al Muslimun, asuhan beliau dan diterbitkan oleh Persis (Persatuan Islam). Kadang Papi Gumiwa juga kalau datang ke Bangil sering membawa majalah Sinar Islam, Majalah terbitan Jemaat di tahun 1932 di Batavia.Terkadang juga beliau kirim per pos.Saya tidak terlalu mengetahui di masa itu, bahwa Sinar Islam dan Almuslimun sering menampilkan perdebatan sengit soal-soal Ahmadiyah. Keahmadiyahan, zaman itu,saya tidak banyak mengetahui. Cuma, papi seing menganjurkan dan mengajarkan kecintaan yang tulus kepada Jemaat dan kepada para "bapak utusan." Di zaman itu bapak-bapak muballigh kita panggil dengan sapaan "bapak utusan". Tuan A. Hasan pindah ke Bangil setelah lama bermukim di Bandung. Di Bangil, selain penduduk keturunan Madura, memang banyak juga penduduk yang berdarah ketuirunan India-Pakistan.

Rupanya suatu ketika Tuan A.Hasan ke rumah dan menemukan Majalah Sinar Islam. Alangkah kagetnya beliau. Kepada Bapak Amin, Tuan A.Hasan bertanya, apa kaitannya dengan Pak Amin dengan Sinar Islamnya Ahmadiyah. Dengan tulusnya, bapak Amin mengatakan bahwa mertua beliau, Papi Gumiwa adalah tokoh Ahmadiyah. Konon, merah padam muka beliau melihat kenyataan ini. Sejak saat itu, Tuan A. Hasan tidak pernah lagi datang ke rumah. Peristiwa ini saya ceritakan ke Papi Gumiwa dan saya minta kepada beliau apa sebenarnya hubungan Ahmadiyah dengan A. Hassan. Maka Papi bercerita tentang perdebatan Gang Kenari, Batavia Centrum,
yang terkenal dengan "kekalahan" Persis dengan A. Hasan sebagai debaternya melawan Ahmadiyah itu.Debater dari Ahmadiyah adalah Maulana Rahmat Ali HAOT dan Maulana Abubakar Ayyub HA. Di kemudian hari setelah debat Gang Kenari itu banyak murid Tuan A. Hasan dari Persis masuk Jemaat. Termasuk murid kesayangannya yang bernama Marah Mansoer, berdarang Minang, tinggal di Bogor yang dikemudian hari diantaranya menurunkan keluarga Bapak Osvian Mansoor yang menetap di Kopleks Perumahan Dosen UI di Ciputat Jakarta itu. Termasuk juga Bapak Ismed Mansoor anggota Jemaat Peninggilan, Tangerang, Banten.

Selang berapa lama, di sekitar 1956 (?) Bung Karno (BK) ke Surabaya. Saya dipercaya oleh Guibernur Jatim waktu itu untuk bergabung bersama team penjemput Presiden di Gubernuran. Alhamdulillah Bung Karno masih mengingat saya. Saya di masa-masa awal kemerdekaan beberap kali tampil di depan Bung Karno membawakan tari-tarian dan kesenian daerah Sunda, Jawa Barat. BK dengan Papi Gumiwa sama-sama dari almamater ITB Bandung. BK lahir Juni 01, Papi Gumiwa Agustus 02.

Keesokan harinya, BK dan rombongan akan meninggalkan Surabaya kembali menuju Jakarta. Kami mengantarkan BK ke Stasiun KA. Di sana para pembesar Jawa Tiumur tumpah ruah termasuk Tokoh Masyarakat. Saya bersama team mengantar BK hingga ke pintu KA. Tiba-tiba di sana ada Tuan A.Hasan bersalaman dengan BK dan kemudian dengan Maulana Malik Aziz. BK lama sekali menjabat tangannya Maulana Malik. Semua mata menuju Maulana. Kemudian saya dan kawan-kawan juga ada di sana. Tiba-tiba BK melihat saya dan kemudian beliau menjulurkan tangannya mengusap-usap kepala saya. BK berangkat ke Jakarta.Saya dan Maulana sempat mengobrol sebentar sebelum berpisah. Di kejauhan, A. Hasan dengan jalan yang agak pincang-pincang, pulang sendirian setelah sekali menyempatkan menoleh kepada kami berdua. (*)

--
Saya kutip dari Catatan-Catatan "30 TAHUN DALAM BAHTERA," Di bawa judul "RADEN GUMIWA PEWARIS KERAJAAN GALUH MASUK AHMADIYAH". Kumpulan catatan dan naskah Padepokan Sukolangit, Cimanuk, Pandeglang, Banten.*** (Catatan dari Putra Setia, Ibu Netty Martakoesoemah, kini menetap di Kompleks Perwira Polri, Palmerah, Jakarta Barat. Kini, beliau adalah isteri Maulana Zafrullah Nazir Mbsy. Maulana Zafrullah adalah mantan Muballigh Ahmadiyah Wilayah Banten dan kini sebagai Dosen Jamia Ahmadiyah, Parung, Bogor, Jawa barat).***

22 Agustus 2007

Juru Bicara Hizbut Tahrir di Permata Hijau

Sudah lama saya mengikuti tulisan-tulisan Muhammad Ismail Yusanto (MIY) Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia di media massa, baik di Suratkabar-suratkabar Ibukota maupun di media-media Hizbut Tahrir (HT), berikut web dan milis-milis resmi HTI, termasuk dari Majalah Al Wa’i ,“corong” HT di Indonesia.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0502/26/opini/1581893.htm
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/08/opini/1602695.htm

Undangan Pengajian Wahdatul Ummah (PWU) yang dipimpin K.H. Dr. Agus Miftah (GM) pada 15.08.07 yang akan menghadirkan MIY di PWU Jumat malam, 17 Agustus lalu, rasanya sangat istimewa bagi saya. Kenapa? Pertama, karena inilah kelompok saudara muslim kita yang “akan mewujudkan” Khalifah dan sistem kekhalifahan untuk mengatasi problema dunia. Suatu yang krusial, mengingat apa “obsesi” Kelompok Saudara muslim kita ini, sudah lebih satu abad, dengan Karunia Ilahi, terwujud di dalam kehidupan Jemaat Ahmadiyah. Namun agaknya, subtansi kehilafahan yang difahami Ahmadiyah tidak (belum) sama yang difahami oleh HT. Yang kedua, karena HTI pekan lalu baru saja melangsungkan hajatan internasionalnya di Istora Senayan Jakarta yang menghadirkan sekitar 90 ribu ummat, termasuk undangan dari berbagai negara.

Yang menarik lainnya bagi saya adalah dampak hajatan internasional itu. Hampir semua negara muslim dari Timur Tengah mengirim nota protes ke Pemerintah RI yang telah memfasilitasi hajatan itu. Bahkan Negara-negara G7 pun tak ketinggalan ikut memprotes. Bahkan, konon, dari BIN ikut dibikin gerah. Sedahsyat itukah?

Saya dari Pandeglang, Banten sampai di PWU menjelang adzan magrib setelah menelusuri rel-rel K.A. yang tidak pernah tidak melelahkan. Di arena pengajian itu, saya yang pertama sampai. Maka sholatlah saya sebatangkara kemudian duduk-duduk di bangku pojok taman. Satu persatu tamu berdatangan. Ada dari IIQ (Institut Ilmu Alquran) Pasar Jumat Jakarta, Kelompok Pengajian Almunawwaroh, kalangan ibu-ibu dari Kalideres. Ada beberapa mantan aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia) yang sudah mulai sepuh juga. Dari Jemaat Ahmadiyah hadir Nono Kukuh Sujano, Hadi Wahyudi S.E., Dr. Soekamana Soma (Kharijiah PB Ahmadiyah), Kamal Emong, keempat beliau ini dari Ahmadi Bogor. Ada generasi muda, khuddamul Ahmadiyah, Rahmat Ali dan Firdaus Mubarik dan seorang Lajnah, Ny. Desi Deviasi Widuri yang juga adalah Wakil Sekjen II Front Persatuan Nasional (FPN). FPN inilah penyelenggara pengajian Wahdatul Ummah ini.

Sekitar 30 orang yang mengikuti pengajian kali ini. Pangajian yang menghadirkan segala lapisan umat dari berbagai golongan Islam baik yang moderat maupun yang aliran “keras”. Baik dari Kalangan Nasrani, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu dan unsur-unsur Partai Politik Nasionalis dan Kebangsaan. Termasuk pula berbagai aliran kepercayaan. Menjelang pukul 20.00 WIB, keluar Dr. K.H. Agus Miftah dengan busana ala Wali Songo lengkap dengan sorban putih. Beliau inilah, yang seperti biasa, nantinya membawakan makalahnya sekitar 4 halaman folio kemudian disusul pembicara tamu sesuai dengan profesi dan minat topik pilihan pembicara tamu. Baru dibuka sesi diskusi. Kalau topiknya biasa-biasa saja, diskusi biasanya sampai pukul 22.30 Tapi kalau topiknya serius yang diikuti banyak pakar, bisanya hingga pukul 00.00 atau lewat.

Tepat pukul 20.05 datanglah pembicara tamu, Ismail Suyanto bersama nyonya. Masih tampak aura kegembiraannya setelah sukses menyelenggarakan hajatan internasional di Senayan.


Agama Kemarahan

Hizbut Tahrir (Kalau diindonesiakan, artinya kurang lebih, Partai Merdeka), berkeinginan untuk menjadikan Syariah dan Khilafah sebagai problem solving dari kegagalan pemerintahan sekuler di negara-negara muslim, tidak disertai dengan cetak biru yang implementatif. Sifatnya dogmatis, utopis dan lebih bersifat idealisme spekulatif yang hanya keras dalam anti Barat, tapi tidak solutif. Khilafah tidak bersifat konformitas dognmatis tetapi harus sepenuhnya rasional-praksis, mewakili semua alternative empiric yang mampu memberikan solusi. Tanpa itu maka syariah dan khilafah akan membawa petaka baru. Setidaknya, khilafah yang dipresepsikan oleh Hizbut Tahrir. Harus dicatat bawa Rasulullah saw. tidak menjadikan masalah kepemimpinan (khilafah) sebagai ritual yang bersifat ortopraksi, namun suatu kesepakatan syuro (demokratis) yang dinamis, prosesnya melalui kontak sosial (aqad mu’ahadah al-ijtima’iyyah) seperti membentukan negara kota Madinah, yang bahkan lebih mendekati bentuk sekuler daripada teokratik.

Jika yang dimaksud syari’ah dan khilafah adalah semata-mata pemerintahan agama yang teokratik-dogmatis, ini akan sangat berbahaya, karena akan menimbulkan konflik dan perpecahan dan antiklimaks nihilisme seperti yang dialami Syaikh Nursi di Turki. Tetapi, jika syariah dan khilafah berupa solusi rasional dengan agregat ekonomi, politik dan social budaya, terutama nilai-nilai kebangsaan, maka kami percaya terdapat harapan di dalamnya. Khilafah ala minhaj nubuwah bukan dogma yang harus dibaca harfiah, tetapi azaz dan nilai-nilai yang penerapannya harus konteks dengan problematik dan tuntutan zaman. Jika akidah dan ubudiyah dianjurkan bersifat salaf (ortodoks), maka ijtimaiyyah lebih dianjurkan bersifat jaded (moderen). Dalam moderenitas yang tauhidiyah, ada sisi dogmatis yang harus digali di masa silam tetapi yang terbanyak sisi rasional yang harus digali di masa kini dan masa depan.

Kita tidak memerlukan sekulerisasi, karena agama Islam tidak pernah menjadi hambatan bagi kemajuan social, bahkan sebaliknya menjadi faktor emansipasi sosial determinan. Yang diperlukan adalah pemaham umat yang lebih baik, agar dapa membentuk psyche ke arah yang lebih kreatif. Kita memerlukan suatu metode dakwah yang dapat memberikan psycho-cognitive yang mampu mengubah struktur schemata kepada bentuk konstitusi jiwa baru yang lebih kreatif. Modal personality kaum muslimin yang dogmatios utopis seperti orang-orang Kristen Mesianik itu harus diubah menjadi basic personality structure yang divergen, kreatif dan progresif. Maka sifat ketauhidan akan berubah menjadi energi dinamik yang akan mampu membangun kembali peradaban dunia baru yang islami. Lengkapnya Masyarakat dan Negara Pancasila yang Islami. Sejauh ini konsep syariah dan khilafah yang dipresisikan oleh Sauadara-Saudara sesama muslim kita, Hizbut Tahrir, termasuk di Indonesia lebih tampak sebagai agama kemarahan. Setidaknya pokok-pokok pikiran inilah yang sering kita baca dalam silang pendapat antara pemikir-pemikir di luar Hizbut Tahrir dalam mengkritisi HT. Termasuk Gus Miftah kali ini.

“Agama Kemarahan?” Inilah komentar Mohammad Ismail Yusanto (MIY) ketika tiba gilirannya membawakan pokok-pokok pikirannya seputar HTI sekaligus memberikan penjelasan banyak hal dalam keberatan-keberatan GM atas HTI.

“Mungkin lebih dari sekedar gairat keagamaan. Bukanlah kemarahan,” katanya dengan emosi yang tertahan disertai sedikit geram, tapi MIY juga ketawa. Peserta juga ketawa. Kemudian MIY juga mengatakan, tidak benar kalau HTI dikatakan tidak punya cetak biru.

“Punya, tapi tidak diketahui banyak orang. Beda arti dari ‘tidak punya’ dan ‘tidak diketahui’. Perlu dialog dan kami siap berdialog dengan semua pihak,” katanya dengan nada yang sudah mulai meninggi.

“Kecuali Ahmadiyah!” tiba-tiba seorang menyela pembicaan MIY. Semua orang menoleh ke sumber suara yang berada persis di samping kiri MIY. Suara Dr. Soekmana Soma yang merupakan Sekretaris Umur Kharijiah PB, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Ahmadiyah Indonesia dan salahsatu Ketua FPN.

“Soal Ahmadiyah, saya tegas. Saya setuju dengan Menteri Agama RI Maftuh Basuni agar Ahmadiyah kembali kepada Islam. Jangan ada kenabian baru. Kalau-toh mau tetap dengan pendapat itu, yaa-silahkan bikin Agama Baru,” sambil menoleh ke Dr. Soma, MIY menjelaskan pendapatnya ini.

Panjang lebar kemudian MIY menjelaskan visi dan misi HTI di Indonessia. Ia lebih banyak menyoroti berbagai hal yang ia sebut sebagai salah urus bangsa yang karena tak berdasarkan syariah. MIY juga mempertanyakan kalau HTI “bukan apa-apa”, mengapa Barat dan banyak negara mulai mewaspadainya.

“Kalau sudah ada kelompok yang punya Khalifah yaa-silahkan bereskan itu Irak,” kata MIY sambil menoleh ke Soma setelah Soma memaparkan konsep Khalifah versi Ahmadiyah yang dimulai dengan Surah Annur (24:56) “…yastakhlifannahum fil-ardhi—DIA pasti akan menjadikan mereka itu khalifah-khalifah di muka bumi ini.”

“Ahmadiyah tidak akan memerangi dan berperang. Tugas Ahmadiyah adalah memanggil manusia termasuk Bangsa-bangsa Barat agar memeluk Islam. Bila mereka memeluk Islam tentu akan jadi Saudara semua dan akan hilang persoalan-perswoalan seperti yang dihadapi ummat Islam dewasa ini,” demikian Soma.

Ummat dengan 200 juta pengikut

Lain lagi dengan cara Gus Miftah menjelaskan “pembelaannya” terhadap Ahmadiyah dengan logika guyon. Sambil menoleh ke MIY yang berada di sebelah kirinya (MIY diapit oleh Soma dan GM). GM mengemukakan, Ahmadiyah itu adalah organisasi Islam terbesar di dunia dengan pengikut 200 juta ummat yang berasal dari berbagai agama dan kepercaaan dan tersebar di sekitar 200 negara. “Jadi wajar saja jika dipimpin oleh seorang Nabi. Yaa-‘nggak mungkinlah ummat sebanyak itu hanya dipimpin oleh kyai-kyai biasa,” ungkap Gus Miftah yang disambut gerr peserta.

“Saya juga kalau punya ummat sebanyak dan sebesar itu, berani juga mengaku nabi,” tambahnya dan geeer lagi peserta pengajian. Pukul 23.15 acara tutup dengan foto-foto bersama pembicara dengan peserta pengajian. MIY dan Soma beramah-tamah. Namun Soma kemudian berbisik kepada saya, “Salaman-nya MIY belum ikhlas.” Sambil ketawa-ketawa kecil, Soma pergi dan pulang ke Bogor.

Dari kawan-kawan Ahmadi, minus Soma, masih bergerombol-gerombol membicarakan banyak hal dengan GM yang tak sempat diungkap di forum termasuk langkah-langkah FPN terkini. Termasuk membahas beritanya Mas Widji (Ketua Ahmadiyah Malang Jatim) yang juga salah satu Ketua FPN Jawa Timur yang akan maju menjadi Kandidat Balon (Bakal Calon) Gubernur Jatim dari jalur independent. Mas Wiji sudah mengantongi suara dari jalur guru-guru (PGRI) Jatim (?), termasuk warga FPN Jatim. Dosen salah satu perguruan tinggi di Malang ini dinilai oleh GM sebagai Ahmadi yang “bernyali” kuat. Kemunculan Wiji ini menurut GM adalah titik bangkitnya sayap politisi Ahmadiyah mutakhir.

GM mengingatkan, betapa banyaknya politisi, cendekiawan, diplomat, rohaniawan dan birokrat Ahmadi menjelang dan awal kemerdekaan RI hingga di era Bung Karno. Tapi kiprah dan gregetnya hilang senyap di era Orde Baru. Suatu kerugian Ahmadiyah yang amat besar yang kerugian itulah kemudian berdampak pada pengucilan Ahmadiyah di panggung Kebangsaan beberapa tahun terakhir ini. Perlu revitalisasi para politisi, cendekiawan, rohaniawan, ilmuan dan birokrasi dan diplomat Ahmadiyah di era kini. Ahmadiyah perlu merumuskan kembali dan konsep-konsep baru dan peranannya dalam bidang politik untuk turut serta membangun Negara Kebangsan kita.

Dalam studi-studi yang mendalam beberapa waktu terakhir ini, banyak organisasi-organisasi internasional yang berada di Indonmesia ini yang warganya mengalami abrasi nasionalisme karena terlalu asyik dengan dirinya sendiri dan sudah nyaman dengan kehidupan komunitasnya sehingga tidak peduli pada kehidupan politik yang lebih menyeluruh. GM berharap, semoga para Ahmadi ini di Indonesia tidak mengalami abrasi rasa nasionalismenya.

GM mengatakan juga, banyak oraganisasi non politik di Indonesia termasuk Muhammadiyah, NU dan lain-lain termasuk Ahmadiyah. Tapi tidak berarti berdiam diri untuk tidak mengasuh warga-warganya untuk berpolitik bagi kepentingan Bangsa dan juga untuk kelompok masing-masing.

Banyak Undang-undang akan lahir di waktu-waktu mendatang dan besar kemungkinan akan banyak undang-undang yang akan merugikan kehidupan kelompok-kelompok minoritas seperti Ahmadiyah. Nah, kata GM, kalau politisi Ahmadiyah ada ditengah-tengah pembuat undang-undang itu kan bisa membela kepentingannya juga. Jangan nanti, kalau sudah ada undang-undang yang merugikannya, baru berteriak-teriak kepada Pemerintah dan kepada kelompok-kelompok lain untuk membantunya seperti beberapa tahun terakhir ini. Saatnyalah intitusi mengabil peranan yang jelas, akurat dan terprogram untuk melahirkan SDM-SDM Ahmadi yang handal termasuk membina politisi-politisi yang handal seperti Ahmadi-ahmadi di Eropa, Amerika dan di Afrika. Sudah bukan waktunya lagi membiakan SDM-SDM Ahmadi lahir, tumbuh dan berkembang sendiri-sendiri.

GM juga meminta Ahmadi-Ahmadi yang lain, terutama yang ada di FPN untuk maju dalam pilkada-pilkada di berbagai tempat. Baik di tingkat Bupati dan Gubernur. GM bersyukur bahwa ide calon independen pertama digulirkan di Pengajian Wahdatul Ummah beberapa bulan lalu. Dan kini, Mahkamah Konstitusi telah mengesahkannya. GM akan ikut menyukseskan kampanye Mas Wiji di Jatim kalau sudah waktunya tiba. GM minta ada Anggota FPN yang Ahmadi yang masuk Pilkada dari jalur indepenmden di Jawa Barat yang tidak lama lagi juga akan memasuki waktu pilkada gubernur.

“Niat tulus orang-orang Ahmadi, berahlak mulia, bersih untuk tidak korup, perkerja keras, adalah modal terkuat yang kini dibutuhkan Bangsa. Sudah saatnya orang-orang Ahmadi tampil membenahi bangsanya, apapun resikonya. Bukankah mereka, orang-orang Ahmadi ini, mengklaim diri sebagai kelompok yang akan mewujudkan kemakmuran bangsa ini seperti yang dinubuatkan orang-orangtua dahulu dalam personifikasi Ratu Adil? Bukankah Anshar Ahmadiyah dalam ikrarnya ‘Selalu siap sedia berkorban untuk Nusa dan Bangsa dimana mereka berada.” GM mengingatkan, bahwa ikrar ini pernah ia dengar di Gondrong waktu menghadiri Ijtima Ansharullah Ahmadiyah setahun lalu.

GM masih berbicara banyak dan kawan-kawan Ahmadi ini masih terpaku. Kemudian terhenyak oleh dering ponselnya GM. “Wah, ini dari Ismail,” kata GM. GM dengan MIY bicara sekitar satu menit yang kemudian diperoleh informasi bahwa mobil sedan Honda Jazz milik MIY mogok. Radiatornya pecah menabrak membatas jalur di jalan samping RS Pondok Indah, Jakarta Selatan. Hanya butuh waktu 10 menit dari rumah GM ke lokasi kecelakaan.

Terus terang saya sedih atas musibah yang menimpa MIY. Nono Kukuh, Ali dan Daus saling berpandangan. Langkah apa yang akan kita ambil. GM dan MIY sepakat mobil yang naas itu ditarik ke Permata Hijau. MIY tinggal di Bogor, terpikir oleh kawan-kawan, biar Hadi dan Nono Kukuh yang mengantar nanti setelah mobilnya MIY di tarik. Mobil MIY tadinya akan diderek oleh mobil Hadi, tapi GM bilang biar Izusu Phanter anaknya saja. GM sendiri yang membawa tali khusus derek dari gudang belakang bersama putranya. Sambil tertawa kepada kami dan setengah guyon GM mengatakan “Wah, MIY ini ‘kualat’ kepada Ahmadiyah-nih. Waktu tadi, MIY menyudutkan Ahmadiyah di forum, saya sudah ada firasat bakal akan ada apa-apa, nih?!” Kami tidak ada komentar seperti itu. Kita hanya sedih, kenapa hal itu harus terjadi?

Maka ditariklah Honda naas itu dari Pondok Indah. Di mobil Phanter ada Ali, Firdaus dan Hanif Miftah sedang di mobil yang naas, Nono Kukuh yang menyetirnya, sedang saya di samping. GM menyenangi sikap tenang kawan-kawan Ahmadi ini dan tidak terprovokasi atas pernyataan-pernyataan MIY di forum. “Keluhuran ahlak orang-orang Ahmadi ini yang dari dulu saya kagumi. Inilah salah satu keberhasilan Pendiri Ahmadiyah mengangkat murid-muridnya pada tingkat emansipasi ahlak dari tingkat bawah, menengah dan menuju puncak ahlak terbaik. Ahlak kekasih-kekasih Tuhan,” kata GM mengakhiri pertemuan kita malam itu.

Ketika Sabtu 18 Agustus, kawan-kawan menengok Honda Jazz MIY. Masih dalam proses perbaikan. GM bercerita, bahwa MIY dari Yogya kontak dengan GM siang hari. MIY berterimakasih atas kebaikan orang-orang GM dalam mengantar kendaraanya ke Permata Hijau sedang MIY naik taksi ke Bogor bersama isterinya. “Wah, itu bukan orang-orang saya. Itu sahabat-sahabat Ahmadiyah kita, anggota pengajian di sini,” kata GM. “Oh, yah? Terima kasih,” hanya itu ungkap MIY dari Yogya. (*) [Banten, 21 Agustus 2007 M/7 Sya'ban 1428 H]

-------oooOooo-------

07 Agustus 2007

Kemesraan Yang Terkoyak

“KEMESRAAN itu sudah sudah lama terkoyak. Kita terlena, tak bisa merawat persahabatan.” Setidaknya inilah jawaban seorang Ketua Cabang Ahmadiyah di Ujung Kulon, Banten, menjawab pertanyaan kritis seorang Khadim Ibukota Jakarta yang berkunjung ke kawasan itu beberapa waktu lalu sekaligus berdikusi tentang banyak hal terutama soal-soal sejarah bangsa yang terkait dengan sejarah jemaat di panggung kebangsaan. Topik diskusi adalah: Ahmadiyah Indonesia dan Departemen Agama (Depag) RI di dasawarsa awal kemerdekaan.

Terungkap dalam diskusi betapa mesranya kedua institusi di masa itu yang semuanya diawali oleh kebutuhan banyak tokoh nasional tentang literatur Ahmadiyah yang mencerahkan umat dan para pemimpinnya. Persahabatan yang mesra itu semakin terlihat ketika di awal tahun 1950-an, Depag sendiri yang menuntun dan memberikan banyak saran dan petunjuk kepada JAI (PB Ahmadiyah Indonesia) dalam penyusunan AD dan ART-nya. Penyusunan ini disetujui langsung oleh Menteri Agama (Menag) RI di masa itu, K.H. Abdul Wahid Hasyim, (Ayahanda Gus Dur—Red.). Dari persetujuan beliau inilah, baru disampaikan lagi ke Menteri Kehakiman (Menkeh) RI. Yang kemudian kita kenal dengan Keputusan Menkeh Nomor J.A./5/23/13 tanggal 13 Maret 1953 itu.

Di awal Orde Baru, kemesraan itu makin mencapai puncak ketika Prof. Dr. Mukti Ali menjadi Menag RI dan Bachrum Rangkuti menjadi Sekjennya. Seperti dalam catatan Sejarah Hidup H.S. Yahya Pontoh Sahib rahmatullah ‘alaih, (catatan masih dalam bentuk naskah—Red.), Mukti Ali lama menjadi anak kost dan tinggal di pavilium Pontoh Sahib ketika masih kuliah di anak benua India. Pontoh Sahib seorang Diplomat RI di masa itu dan Sahabi dari Muslih Mau’ud r.a. Konon, setiap harinya, Mukti Ali Sahib melahap buku-buku Jemaat. Beliau sangat kuat belajar dan merokok.

Tentang Bachrum Rangkuti Sahib, tadinya beliau seorang Ahmadi dan salah seorang murid tercerdas Hadhrat Maulana Rahmat Ali HAOT.

Kedekatan dan kemesraan JAI – Depag RI tercermin juga dalam kepanitiaan Penyusunan Tafsir Alquran Depag yang “menerjemahkan mentah-mentah” Pengantar Mempelajari Alquran karya Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad Khalifatul Masih II r.a.. “Almarhum” Majalah Ahmadiyah Sinar Islam tak sepi memuat kemesraan ini, terutama di era tahun 50 hingga 70-an.

Kini 30 tahun berlalu, kemesraan itu terkoyak. Kita saling terasing dan saling mengasingkan diri. Padahal, kita masih sesama anak bangsa. Bukan hanya itu, bahkan—Menag kita sekarang (Muhammad Maftuh Basuni, 64 tahun) berkali-kali menginginkan Ahmadiyah hengkang dari negeri yang juga sama-sama kita bangun dengan penuh pengorbanan. Tongkat estafet kemesraan itu, tak terasa jatuh dari tangan dan: Hilang! Suatu generasi yang harus bertanggungjawab! Dan, generasi kini yang harus bekerja keras untuk menjahit kemesraan yang terkoyak itu. Dan rasanya, bukan hanya di satu sektor ini. Tapi hampir di semua lini. Wallâhu a’lâmu bi'sh-shawâb.[] (AADP/06082007)***