Tampilkan postingan dengan label jai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jai. Tampilkan semua postingan

15 Maret 2022

Kang Arif telah tiada


KANG ARIF telah tiada😥
Innā lil-Lāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

Catatan A.A. Daeng Patunru', Cimanuk, Pandeglang, Banten.

Gambar dari (thank's to): Ananda Muhammad Dien yang beredar via lintas WhatsApp group.

Beliau adalah sosok yang paling full pengabdiannya ketika Pusat Pendidikan (Pusdik) Mubarak di kecamatan Parung (tepat di Kampung Jampang, desa Pondok Udik dan kini jadi bagian dari kecamatan Kemang setelah mengalami pemekaran dari Parung) masih hutan belantara. Keyakinan beliau tentang penting membangun dan meramaikan pusat Jemaat Indonesia yang--dengan karunia Allāh--berada di kabupaten Bogor diwujudkan dengan kepindahan beliau dari kota Bogor di samping Mesjid Al-Fadhal Jalan Perintis Kemerdekaan ke Parung bersama dengan kepindahan kakak iparnya ke kawasan hutan belukar itu, Bapak Gunawan Djajaprawira. Beliau, Djajaprawira ini, pindah dari kelurahan Grogol Selatan, kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

24 Mei 2010

[Panen Hati di Ladang Rabtah/PHDLR] Tiga kelompok anak bangsa yang merepresentasikan nilai-nilai konstitusi jiwa kebangsaan mereka...

Kharijnas H.A. Mubarik Ahmad, S.H. kemarin (21/5) di Jakarta, "Prahara Parung 2005, langsung memetakan kepada kita; setidaknya, tiga kelompok anak bangsa yang merepresentasikan nilai-nilai konstitusi jiwa kebangsaan mereka.

"Pertama, kelompok berpandangan absolut; bahwa, semua kelompok yang tidak sepaham dengan kelompoknya tidak pantas untuk hidup berdampingan di negara republik ini.

"Kedua, siapa pun warga bangsa, dia berhak hidup sejajar dengan warga bangsa lain.

"Ketiga, kelompok yang tidak bersikap karena memang tidak tahu dan tidak juga peduli apa sebenarnya alasan substansial dari pergolakan-pergolakan yang mengatasnamakan agama dan pemurnian agama ini.

"Sikap 'anomali' pemerintah membantu proses pengentalan pandangan dari kelompok pertama dan kedua. Kelompok ketiga, menurut beberapa penelitian, cenderung ke kelompok kedua setelah pers nasional mainstream nasionalis kebangsaan mengambil sikap: Selamatkan bangsa dari radikalisme yang akan membawa bangsa kepada kategori 'negara gagal'."[] (AADP)

23 Mei 2010

[Panen Hati di Ladang Rabtah/PHDLR] Upaya rabtah yang "dipaksa"...

Suatu hari, Sayyidina Abu Bakar r.a. berkata, "Sesungguhnya, aku telah mengatur urusan kamu, tetapi aku bukanlah orang yang paling baik di kalangan kamu. Maka, berilah pertolongan kepadaku. Kalau aku bertindak lurus, maka ikutilah aku. Tapi, kalau aku menyeleweng, betulkan aku!"

Kekharijiahan, pasca prahara Parung ini demikian strategisnya. Hampir semua kekuatan dikerahkan ke sana. Prahara ini menelan social cost yang amat besar, terbesar sepanjang sejarah Jemaat di Indonesia. Kesungguhan mengatasi kemelut, muncul di semua strata.

Prahara besar itu tak kuasa tertangani baik karena miskinnya pengalaman dan SDM yang tak siap menjadikan upaya raftah/rabtah "dipaksa" dengan konsep "meloncat dari atas tebing ke bawah sambil merajut sayap".

Untuk meminimalisir diviasi, Sekretaris PB JAI (Kharijnas) H.A. Mubarik Ahmad, S.H. dengan sahabat-sahabat terus-menerus mengkaji persoalan-persoalan mendasar.

Ucapan Hadhrat Abu Bakar r.a. di atas menjadi sumber inspirasi di lapangan [pengkhidmatan].[] (AADP)

18 Mei 2010

Panen Hati di Ladang Rabtah (2/2)

Kepergian seseorang yang amat dekat di hati, tak pelak membuat suatu kekosongan di alam berkesadaran. Ini nampaknya yang dialami Bang Buyung kemarin dengan kepergian putra sulungnya, Iken (54 tahun).

Presiden SBY dan Ibu Negara sendiri hadir melayat. Para Menteri, tokoh sipil, politisi, dan militer, artis dan selebrita, membaur di rumah duka hingga ke pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Aliansi, pejuang HAM dan Kelompok Minoritas, yang terakhir ini Bang Buyung bela dengan segenap daya dan kemampuan,makin membuahkan banyak simpati. Dan manakala dtang duka menimpa jiwa, tabungan kebaikan itu datang bagai air bah, tak terbendung.

Kharijiah Nasional H.A. Mubarik Ahmad, adalah representasi dari kelompok minoritas ini. Tapi, apa istimewanya sehingga ia nampaknya bisa mengisi kehampaan yang ditinggal duka di relung hati Bang Buyung.

"Tidak ada yang pribadi. Semuanya berkat Masih Mau'ud," ungkap Kharijnas. "Semuanya dari hati yang menyinta untuk semua."[]