![]() |
| Maulana Khairuddin Barus-Shaheed r.h. |
Acara haul di Padepokan Sukolangit dan Pesantren Al-Muhajirin diikuti juga 130 warga Nahdiyin dari lingkup khidmat Jemaat Pandeglang.
Dari Pengurus Besar JAI, hadir Bapak Haji Rahmat Syukur Maskawan dan Bapak Drs. Abdul Rozzaq. Muballigh Maulana Idrus Permana dari Serang hadir, mewakili Muballigh Wilayah Banten I Maulana Buldan Burhanuddin.
Banyak warga Nahdiyyiin yang meneteskan airmata, terutama warga NU yang mengenal Maulana Barus duapuluh empat tahun silam di Cimanuk, Banten.
Haul dimulai dengan pembacaan riwayat hidup singkat Maulana Khairuddin Barus-Shaheed.
Maulana Barus muda pertama kali adalah sebagai penganut agama Palbegu. Ia adalah agama kuna di Batak, Sumatera Utara.
Maulana Barus diislamkan oleh ulama dari Banten di Kampung Banten, tetangga kampung Maulana Barus di Tanah Batak Karo.
Terlahir di kaki Gunung Sibayak, Tana Karo, Sumatera Utara, pada 3 Maret 1947--beliau suka bilang sebagai tanggal lahir "nembak" atau kira-kira--dengan nama aselinya: Motor.
Kemudian, nama itu diganti sbgai Khairuddin oleh seorang guru agama beliau: Mad Dari Hasyim Ahmad. Dia berasal dari Jalupang, Pandeglang, Bnten.
Barus adalah nama marga.
Beliau pun disunat oleh gurunya tatkala menginjak remaja.
Nama aseli beliau adalah Motor karena pada waktu beliau lahir ada truk pengangkut getah karet melewati depan rumah beliau.
Merupakan tradisi Batak Karo, bila ada anak lahir, nama yang diberikan kemudian adalah sesuai peristiwa yang terjadi tatkala si bayi lahir. Motor dalam pengertian orang Batak adalah mobil.
Maulana Barus belajar qiroah dan tajwid Al-Qur'an adalah dari seorang qori'ah nasional masa lalu, Hafizah Nurjanah, di Medan, sektar awal tahun 1963.
Qori'ah ini berasal dari Desa Kramat Watu, Serang, Banten.
"Takdir perjalanan hidup saya banyak sekali terkait dengan Banten dan orang-orang Banten," ungkap Maulana Barus ketika pertama kali tugas sebgai Muballigh di Wilayah Jabodetabek-dan-Banten tahun 1991.
Kenangan beliau ini terbawa hingga penugasan-penugasan beliau selanjutnya di Fillipina Selatan dan Papua Nugini (Papua New Guinea) atau PNG hingga berpulang ke rahmatullah pada 17 Juli 2011 di PNG setelah bebrapa kali sakit-dan-sembuh.
Tahun 2007, beliau pernah diracun oleh pnduduk aseli PNG di prkmpungan yang jauh-terpencil di dalam medan tabligh pedesaan. Dan bliau selamat. Sahabat-sahabat beliau selalu menyatakan peristiwa ini sebagai mukjzat.
BAGI para sahabat, Maulana Barus adalah sosok yang berkemampuan dengan tajam melihat potensi para sahabat beliau, baik potensi yang mulai menampak maupun yang mash laten.
Dengan demikian, Sang Maulana membawa dan membimbing para sahabatnya bagaimana menjadi insan-insan Ilahi yang kemudian berkemampuan juga memanggl manusia di jalan-Nya.
Potensi sahbat dalam pergerakan dan mobilitas sosial yang beraneka ragam itulah yang tercermin dalam beragamnya latar belakang dan profesi sahabat di medan Dai Ilallah, Banten.
Maulana Barus kemudian mengkomunikasikan potensi-potensi sahabatnya langsung kepada sahabat-sahabat beliau dengan berbagai cara, baik langsung, secara empat mata, maupun di forum-forum beliau.
Kadang juga melalui sahabat-sahabat lain.
Di awal pengkhidmatan beliau di DKI dan Banten, pola ini cepat sekali memberikan dampak baik dengan berkumpulnya Jemaat di sekeliling beliau untuk pengkidmatan terutama di bidang tabligh.
Langkah Maulana Barus menjadikan rujukan dalam forum nasional, wilayah, daerah, dan kelompok-kelompok tingkat cabang. Muballigh Wilayah lain yang termasuk yunior-yunior beliau ketka "mondok" di Jamiah Rabwah, Pakistan, menjadikan langkah-langkah dan pikiran-pikiran beliau sebagai sumber inspirasi.
Pemberdayaan Anggota Jemaat dengan menjadikan mereka sahabat-sahabat sejati adalah prioritas utama yang sudah menjadi gaya paten kepemimpinan Maulana Barus di setiap tempat pengkidmatan.
Suatu hari Maulana Barus ditanya oleh seorang anggota Jemaat mengenai pola beliau itu, dijawab bahwa nabi-nabi yang diutus Tuhan semua berpola demikian. Apalagi Rasulullah saw. dan Masih Mau'ud a.s..
Suatu hari, Maulana Barus membawakan khotbah Hadhrat Khalifatul Masih IV r.h. yang menyatakan bahwa keberhaslan seorang muballigh di lapangan sangat tergantung dari kemampuan mereka menggalang persahabatan yang mengikat kuat hati Jemaah.
"Seni bersahabat adalah sebuah kunci. Seni bersahabat adalah kunci kepemimpinan," kata Maulana selalu kepada muballigh-muballigh di wilayahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar