17 Juni 2008

[Ahmadiyah Tempo Doeloe] Mesjid ‘Gang Gerobak’ Hidayat dan Jakarta Fair

SABAN kali Pekan Raya Jakarta (PRJ) berlangsung tiap tahun di Jakarta pada awal Juni hingga awal Juli seperti sekarang ini, saat itu pula saya teringat penuturan Orang-orang Tua Jemaat Awwalin kita. Apa pasal? Jakarta Fair sekarang ini, doeloe-nya bernama Pasar Malam Gambir, sudah ada sejak zaman kolonial. Dan itu berlangsung di Gambir, Merdeka Timur sekarang. Tempatnya kurang lebih berada di Monas Kelabu ketika Peringatan Hari Pancasila 1 Juni 2008 baru-baru ini. Atau gampangannya, bertempat di sekitar Stasiun KA Gambir yang terkenal bila arus mudik lebaran tiba.

Lantas, hubungannya dengan Mesjid “Petodjo Gang Gerobak” Hidayat itu apa?

Ceritanya bermula di Kota Batavia pada penghujung tahun 1935, ketika sang penabur benih Ahmadiyah Nusantara Maulana Rahmat Ali H.A.O.T. bersama Raden Moertolo dan Raden Ahmad Bermawi bermusyawarah tentang pentingnya mesjid sebagai pusat Jemaat, baik untuk ibadah, pertemuan jemaah, sekretariat organisasi dan lain-lain. Apalagi Batavia merupakan ibukota Kerajaan Hindia Belanda. Yaa, multi fungsi-lah!

Demikian agaknya pemikiran para tokoh Awalin ini. Maka, ditugaskanlah Bapak Ahmad Bermawi yang bekerja pada Tata Kota Batavia guna mencari tanah pemerintah yang bisa dibeli. Maka, jatuhlah pilihan pada Petodjo Oedik, tempatnya masih di Kecamatan Gambir, di sebuah Gang yang terkenal dengan sebutan Gang Gerobak, karena di sana bermukim aneka macam gerobak. Mulai dari gerobak sayur, gerobak air, gerobak pasir hingga gerobak pengantar bambu gelondongan dan bilik bambu. Gerobak merupakan alat angkut penopang ekonomi penghuninya yang memenuhi bedeng-bedeng kawasan itu, berjejer memadati pinggiran Kali Cideng.

Singkat cerita, tanah sudah dibeli Jemaat atas nama Bapak Ahmad Bermawi yang kemudian hari dibaliknamakan atas nama Jemaat Ahmadiyah pada tahun 1954, setahun setelah Jemaat berbadan hukum pada 1953.

Bagaimana membangun mesjid? “Seadanya. Sesuai dengan kemampuan Jemaat.” Demikian kurang lebih arahan sang Maulana kepada jemaah yang memang sudah lama dan beberapa kali menumpang di beberapa kediaman warga Jemaat di Batavia, termasuk di Gang Klejkamp, sekitar Pasar Baru sekarang.

Ahmadiyah masuk Batavia kira-kira pertengahan 1930. Seorang anak muda bernama Sanaman, yang kemudian hari menjadi menantu Dji An, adalah sebagai pelaksana pembangunan mesjid. Sanaman merupakan pegawai teknik tak resmi Pak Bermawi yang kemudian belakangan hari bergabung pula Mas Kardjo (Ahmad Soekardjo).

Bahan-bahan sudah terkumpul, kecuali kayu. Diperlukan balok-balok dan papan, itu pun agak mahal. Keputusannya, panitia membeli bahan-bahan bangunan bekas saja. Ternyata, setelah ke sana-sini mencari kayu-kayu bekas yang sesuai dengan kemampuan Jemaat, itu semua tak kunjung mereka temukan. Sedangkan, sang Maulana menanyai terus kapan mesjid mau dibangun.

Jemaat, dalam tradisinya, selalu berpikiran bahwa sekecil apa pun karunia, itu adalah pertolongan Tuhan. Begitu pun, pada suatu hari, setelah Bapak A. Bermawi berputar-putar Batavia, (Anda jangan membayangkan betapa luasnya Jakarta sekarang, daerah Batavia waktu itu adalah Sunda Kelapa, Gambir dan Menteng yang bangunannya masih sedikit), beliau mampir ke Pasar Gambir yang baru saja usai. Di sana masih terdapat material los-los pasar sementara dibongkar, termasuk papan-papan, balok-balok tiang dan bambu-bambunya.

Dengan hati gembira Bapak Bermawi menanyakan kepada mandor pasar, apakah bekas-bekas material ini mau dijual. Serta-merta sang mandor mengiyakan, bahwa material itu akan dijual.

Tak berlangsung lama, kayu-kayu itu beralih ke tangan Jemaat dan kemudian diboyong ke Petodjo Oedik dan diangkut dengan gerobak sapi. Hanya selang beberapa beberapa hari, para jemaah membangun mesjidnya yang pertama di Batavia. Dan itulah mesjid Gang Gerobak, yang material kayunya berasal dari bekas-bekas material Pasar Gambir, Jakarta Fair (JF) sekarang ini.

Pasar Malam Gambir perlahan menjadi Jakarta Fair yang pada pertengahan tahun 90-an pindah ke Kemayoran dan berganti nama menjadi Pekan Raya Jakarta. Sedang Mesjid “Gang Gerobak” Hidayat pun berevolusi. Hingga sekarang, yang semakin sering kita lihat akhir-akhir ini di layar kaca semua stasiun televisi nasional, publikasinya pun mengalahkan PRJ. PRJ dan Mesjid Petojo Gang Gerobak itu, semoga keduanya panjang umur dan memberikan pengabdiannya kepada bangsa, khususnya di bidang kebendaan bangsa. Dan Mesjid Gang Gerobak, menelorkan terus insan-insan berahlak mulia guna memenuhi kebutuhan spritual anak bangsa pada zaman-zaman berikutnya. Amin.[] (AADP)


CATATAN: Raden Moertolo adalah murid Maulana Rahmat Ali H.A.O.T. dan mantan Ketua Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (PB JAI) hingga akhir hayat pada tahun 1981.

Raden Ahmad Bermawi adalah kakek dari pihak ibu dari Bapak Ir. Erwin Buditobias dan Ir. Jusuf Achmad (Anggota PPMKAI tahun 80-an).

Dji An adalah tukang cukur, sahabi dan khaddim sang Maulana. Hingga akhir hayat memelihara rambut sang Maulana, hasil bekas cukurannya yang berceceran. Menjelang akhir hayat, Dji An minta, rambut cukuran itu dikubur bersama jenazahnya kelak. Dan dikabulkan anak cucunya. “Jangan sampai menjadi bahan syirik,” katanya suatu ketika kepada penulis kisah ini. Dji An adalah ayah dari Saleh Dji An dan Sidiq Dji An yang pernah lama menjadi anggota PB JAI.

Sanaman adalah menantu pertama Dji An. Dia adalah ayah Basyiruddin Sanaman yang pernah menjabat salah satu kepengurusan di Majelis Ansharullah tingkat Pusat, dan keponakannya menikah dengan Muballigh Lokal JAI Kebayoran Maulana Muhammad Idris Sahib.

CERITA berikutnya, insya Allah, kesaksian dua orang tentang awal pembangunan Mesjid Hidayat pada dua zaman yang berbeda. Cerita ini masih akan berkembang.

Berikut hilight-nya:

“Saya masih sempat melihat tulisan-tulisan dan nama tentang stand-stand Pasar Gambir di dinding Mesjid Hidayat dalam waktu yang lama,” ujar Ibu Yuce (saksi hidup) salah seorang puteri Bapak Ahmad Bermawi beberapa waktu lalu di kediamannya di Karang Tengah, Jakarta Selatan.

“Gua yang bawa bambu itu dari Rumpin,” ungkap seorang Ahmadi Betawi awal yang mengaku Ahmadi tertua sekarang ini, umurnya hampir 100 tahun.

Mudah-mudahan kita bisa menemui kisah ini selanjutnya. Mohon Doa.[]

AADP—Kawasan Ujung Kulon, Cibaliung, Banten, 10 Juni 2008. Edit by Aa Ali.

07 September 2007

Embrio Himpunan Pengusaha Ahmadi Indonesia (HIPAI), Kapan Menetasnya?

Ananda Aa Ali, terima kasih atas suntingannya. ;-)


Saya lama tidak ke Bandung. Seingat saya terakhir waktu mendampingi Mubarik S.H. sebagai Panitia Pusat Tamu Agung, sekitar enam tahun silam.

Kali ini, saya diundang Hadi Wahyudi untuk melihat dari dekat kantornya yang baru, sebuah kantor akutansi publik di Tegalega. Menjelang magrib, dia mengajak saya mampir di sebuah kantor. Saya tidak tahu itu kantor siapa. Hadi hanya bilang ke saya, nanti Abang seneng deh. "Banyak sohib lama Abang di situ!"

Saya sih sebenarnya rada gondok, karena dia janji Salat Magrib di Mubarak, Jalan Pahlawan. Saya ingin ketemu Kang Maman (Drs. Mansjoer Ahmad K.) senior saya, Naib Sadr II PPMKAI 77-79. Konon, magrib biasanya beliau di sana dan bersama beberapa sohib lama. Tapi biarlah, Hadi yang berkuasa. Toh, saya cuma "tawanan" yang tahunya duduk di samping depannya, diam dan ngobrol kalau ada ide yang menarik. Jauh-jauh dari Ujung Kulon, kangen sama sohib Bandung, tidak kesampaian. Hati saya masih ngegerundel. Payah. :-P

Benar saja. Sebuah kantor kita datangi. Di halamannya banyak prabotan masak-memasak yang besar-besar. Saya masuk ke kantor melewati semacam pintu samping yang langsung rupanya di ruang rapat. Di sana berlangsung sebuah rapat. Terkesan rapat pengurus Jemaat karena yang hadir semuanya sohib-sohib lama. Ada Ukun Maskawan, Wawam Hermawan, kedua beliau ini adalah mantan Sadr PPMKAI awal hingga pertengahan tahun 90-an.

Ada Dedi dari Cimahi, khadim abadi yang sudah umur kepala 5 tapi belum juga "ketemu jodoh". Dedi ini sohib pertama saya di KPA (Kursus Pendidikan Agama/Kelas Taklim--atau Pesantren Kilat, lah!) tahun '74 Tasikmalaya. Satu kelompok yang menginap di Balai pertemuan Ahmadiyah Jalan Nagarawangi.

Juga ada Rohyan, cucu Abah Sadkar Garut. Kawan lama di Padang ini, badannya tak melar-melar seperti banyak angkatannya. Meskipun sudah Ansor muda, tapi tampilannya masih modis aja. Mirip-mirip ABG kalau lagi tidak pakai peci.

Nah, satu lagi, Wawan Hermawan. Beliau satu ini, sebelum masuk/baiat ke dalam Jemaat Ahmadiyah adalah murid kesayangann Kyai Haji Abubakar Baasyir (Majelis Mujahidin Indonesia). Ketika masuk Jemaat di tahun 79 saya langsung menemuinya di Sukabumi. Kata dia kepada saya, "Bang, foto-foto lama kita di awal tahun 80-an di Balong Dalam, Manis Kidul, Kuningan, masih tersimpan rapi."

Baasyir, sebelum hengkang ke Malaysia, dia menyempatkan dirinya menengok Wawan di Sukabumi. Beruntung Wawan, jala Imam Mahdi menyelamatkanya. Barakallah.

Ada rapat apa ini, kata saya ke Hadi setengah berbisik. "Abang diam saja, nanti juga tahu-lah," kata Hadi.

"Rapat ditunda dulu!" Ukun Sahib bangkit dan salaman sambil memeluk saya. "Suhu Kulon datang, kita hormati dulu, katanya sambil ketawa lebar tanpa suara.

Menyusul Wawan Sahib yang bilang tak kalah guyonnya, "Jawara Kulon saba Bandung!!!" Lalu menyusul Rohyan Sahib dan Dedi Sahib. Dan beberapa kawan yang masih muda, saya tak kenal. :)

Sebelum rapat dilanjutkan, Ukun Sahib memberikan pengantar kepada saya, bahwa rapat ini adalah rapat yang keempat kalinya dari apa yang mereka sebut sebagai Rapat Persiapan Pembentukan HIPAI (Himpunan Pengusaha Ahmadi Indonesia). Wawan Sahib menyodorkan ke saya konsep AD-ART-nya dengan permintaan "Mohon saran!". Sedang , Ukun Sahib minta supaya Orang Kulon ini membantu di publikasinya.

Rapat kali ini membahas rencana jangka pendek, penyempurnaan AD-ART dan akan memutuskan logo apa yang akan dipakai. Logo ada empat pilihan, semuanya dirancang oleh Dedi. Ada lembaran yang memuat agenda rencana kerja termasuk Rencana Kongres HIPAI pada Februari 2007. Ada daftar ratusan pengusaha Ahmadi dari bebebagai Cabang Jemaat di Indonesia. Mulai dari pedagang kaki lima, konveksi, kontraktor kecil, menengah hingga besar. Ada juga importir senjata berat rekanan Hankam.

Ada beberapa lembar kertas sisipan di depan saya yang disodorkan oleh Rohyan Sahib, termasuk susunan HIPAI itu. Susunan itu, nama-namanya semua pengusaha dari Jawa Barat. Saya setengah berbisik ke Hadi, "Di, koq ini semua pengurusnya dari Jawa Barat? Emang di DKI dan Banten tidak ada pengusaha. Ini mah HIPAI Jawa Barat bukan Nasional!" Kata saya rada emosi (hehehe... soalnya saya belum makan malam nih!).

"Abang tenang aja, jangan langsung emosi dong. Namanya saja baru konsep", Kata Hadi.

Ada sejam saya ikuti rapat itu. Kemudian Ukun Sahib mempersilahkan kepada saya dengan harapan barangkali saja ada saran. Saya katakan, bahwa soal pengusaha Ahmadi dan himpunannya ini sudah sejak pertengahan tahun 70, sudah seringkali digagas terutama sejak kepemimpinan Raisuttabligh JAI Alm. Maulana Imamuddin H.A. Sahib.

Gagasan Yayasan Wisma Damai yang didirikan awal 1964 juga adalah salah satu maksudnya itu. Termasuk, gagasan Badar Kamil yang juga digagas di awal tahun 1970 itu. Semua pengusaha di masa itu seringkali diundang rapat dan menelorkan beberapa keputusan. Tapi kemudian, cerita itu hilang lagi. Muncul lagi. Hilang lagi. Dan terus begitu entah berapa kali. Terakhir hal yang sama digagas lagi oleh Alm. M. Hanafi S.M. Sahib. Tapi, lagi-lagi gagal dan tak pernah terwujud hingga berpulang ke rahmatullah beberapa tahun silam.

Hadi bertanya ke saya, "Kenapa begitu, Bang?"

Saya bilang, "Saya tidak tahu persis penyebabnya apa. Cuma yang saya amati adalah, manakala 'himpunan' itu menuntut kepemimpinan yang totalitas, pengorbanan tingkat tinggi, tidak ada seorangpun para penggagas yang tampil habis-habisan. Apalagi kalau 'himpunan' itu sudah bertabrakan dengan kepentingan [perusahaan] pribadi pengurus dan penggagas. Upaya himpunan, raib sudah.

"Di," kata saya, "persoalan-persoalan besar, tantangan-tantangan besar selalu melahirkan pemimpin-pemimpin tangguh. Nah, 'Di, hal beginian di kita masih terasa amat langka", kata saya.

Panjang lebar, saya berkhotbah kepada Hadi sembari menikmati mulusnya tol Cipularang dan sesekali Hadi ngantuk. Bosan jusa dengar khutbah. Hingga tak terasa sampai di Terminal Rambutan, Jakarta Timur, menjelang tengah malam. Saya diturunkan di situ dan Hadi langsung ke kediamannya di Perumahan Budi Agung, Bogor.

Sebelum Hadi cabut, saya tanya Hadi, siapa yang namanya Fitratur Rahmani yang Rohyan sebut-sebut tadi di Bandung? Hadi ngakak, "Abang mau tau aja!"

Kemudian, Hadi dan blazer-nya hilang di tikungan sana. Saya kemudian naik Bus Arimbi menuju Pandeglang, Banten.(*)
Catatan AADP, 11 November 2006--Padepokan Suko Langit, Cimanuk, Pandeglang, Banten

-------oooOooo-------

26 Agustus 2007

Bung Karno, Malik Aziz Ahmad Khan, A. Hassan dan Surabaya


"Saya (Ny. Netty Partakoesoema) mendampingi Suami (Amin Martakoesoemah) sebagai Kapolres Bangil (Jatim) sebelum pindah ke Jambi, Sumatera (1952 - 1956). Tinggal di Bangil dengan anak-anak yang yang masih kecil (Ninik, Rita, Riki, Ade.Riki dan Ade lahir di Bangil) Sebagai keluarga pejabat daerah memungkinkan saya untuk mengenal hampir semua tokoh masyarakat di Bangil dan beberapa tokoh di Surabaya. Saya sering ke Surabaya dan menyempatkan diri ke Mesjid Jemaat di Jl. Bubutan.

Saya dan Bapak sering bersilaturrahmi dengan Bapak Maulana Malik Aziz Ahmad Khan (rahimaullahu alaih). Saya sering menemukan beliau seorang diri di Mesjid itu dengan segala kesederhanaannya.Keluaraga beliau ditinggal di Jawa barat. Dapur dan segala prabotannya termasuk makanannya yang sangat sederhana. Kompor minyak tanah satu dan sudah tua, piring hanya tiga buah, sendok-sendok 'kodok' sederhana yang terbuat dari seng.Emberkaleng dan gayung kaleng, bekas mentega "palemboom". Ada sepeda tua yang selalu parkir dekat pintu mesjid yang juga berdempetan dengan rumah Bapak Abdoel Gafur. Jika kami datang silaturrahmi kepada beliau, beliau selalu sibuk dan pergi dengan sepedanya membeli makanan kecil untuk kami. Meskipun kami melarang beliau untuk tidak repot-repot.

Tidak jarang saya diam-diam meneteskan airmata melihat kesederhanan hidup Sang Mujahid ini dalam mengembang dakwah Hadhrat Imam Mahdi a.s. di kawasan Jawa Timur. Saya memanggil Maulana Malik dengan sapaan "Om" karena kebiasaan keluarga kami di Jawa Barat. Kami pernah tinggal di Bandung, Garut, Bogor, Sukabumi dan Jakarta. Papi pejabat di PU dari zaman kolonial hingga era kemerdekaan. Sedang asal Papi dari Keluarga Galuh Ciamis. Papi saya, Ir. Gumiwa Partakoesoma (alm), seingat saya sering bahu membahu dengan banyak bapak muballigh markazi awal di Jawa Barat dan Jakarta. Termasuk Maulana Malik. Saya pernah mengikuti Tabligh Akbar dan beliau sebagai pembicara tunggal di suatu gedung bersejarah yang megah di Surabaya.

Pada saat-saat tertentu, Maulana Malik datang ke Bangil dan menginap di rumah. Rumah memang tempatnya para pejabat daerah untuk bersilaturrahmi termasuk tokoh-tokoh agama. Dari sekian tokoh yang sering datang ke rumah adalah Tuan A. Hasan, lawan debat Maulana Rahmat Ali HA OT di Gang Kenari Jakarta, 1933. Tuan A.Hasan sering minta berbagai macam sumbangan termasuk menjual buku-buku dan majalah terbitan Persis (Persatuan Islam). Saya sendiri tidak mengatahui cerita ini pada awalnya, karena masa itu, kata Papi Gumiwa saya baru bisa berjalan. Ini cerita Papi Gumiwa.

Kepada Bapak Amin, suami saya, Tuan A. Hasan sering menghadiahkan Majalah Al Muslimun, asuhan beliau dan diterbitkan oleh Persis (Persatuan Islam). Kadang Papi Gumiwa juga kalau datang ke Bangil sering membawa majalah Sinar Islam, Majalah terbitan Jemaat di tahun 1932 di Batavia.Terkadang juga beliau kirim per pos.Saya tidak terlalu mengetahui di masa itu, bahwa Sinar Islam dan Almuslimun sering menampilkan perdebatan sengit soal-soal Ahmadiyah. Keahmadiyahan, zaman itu,saya tidak banyak mengetahui. Cuma, papi seing menganjurkan dan mengajarkan kecintaan yang tulus kepada Jemaat dan kepada para "bapak utusan." Di zaman itu bapak-bapak muballigh kita panggil dengan sapaan "bapak utusan". Tuan A. Hasan pindah ke Bangil setelah lama bermukim di Bandung. Di Bangil, selain penduduk keturunan Madura, memang banyak juga penduduk yang berdarah ketuirunan India-Pakistan.

Rupanya suatu ketika Tuan A.Hasan ke rumah dan menemukan Majalah Sinar Islam. Alangkah kagetnya beliau. Kepada Bapak Amin, Tuan A.Hasan bertanya, apa kaitannya dengan Pak Amin dengan Sinar Islamnya Ahmadiyah. Dengan tulusnya, bapak Amin mengatakan bahwa mertua beliau, Papi Gumiwa adalah tokoh Ahmadiyah. Konon, merah padam muka beliau melihat kenyataan ini. Sejak saat itu, Tuan A. Hasan tidak pernah lagi datang ke rumah. Peristiwa ini saya ceritakan ke Papi Gumiwa dan saya minta kepada beliau apa sebenarnya hubungan Ahmadiyah dengan A. Hassan. Maka Papi bercerita tentang perdebatan Gang Kenari, Batavia Centrum,
yang terkenal dengan "kekalahan" Persis dengan A. Hasan sebagai debaternya melawan Ahmadiyah itu.Debater dari Ahmadiyah adalah Maulana Rahmat Ali HAOT dan Maulana Abubakar Ayyub HA. Di kemudian hari setelah debat Gang Kenari itu banyak murid Tuan A. Hasan dari Persis masuk Jemaat. Termasuk murid kesayangannya yang bernama Marah Mansoer, berdarang Minang, tinggal di Bogor yang dikemudian hari diantaranya menurunkan keluarga Bapak Osvian Mansoor yang menetap di Kopleks Perumahan Dosen UI di Ciputat Jakarta itu. Termasuk juga Bapak Ismed Mansoor anggota Jemaat Peninggilan, Tangerang, Banten.

Selang berapa lama, di sekitar 1956 (?) Bung Karno (BK) ke Surabaya. Saya dipercaya oleh Guibernur Jatim waktu itu untuk bergabung bersama team penjemput Presiden di Gubernuran. Alhamdulillah Bung Karno masih mengingat saya. Saya di masa-masa awal kemerdekaan beberap kali tampil di depan Bung Karno membawakan tari-tarian dan kesenian daerah Sunda, Jawa Barat. BK dengan Papi Gumiwa sama-sama dari almamater ITB Bandung. BK lahir Juni 01, Papi Gumiwa Agustus 02.

Keesokan harinya, BK dan rombongan akan meninggalkan Surabaya kembali menuju Jakarta. Kami mengantarkan BK ke Stasiun KA. Di sana para pembesar Jawa Tiumur tumpah ruah termasuk Tokoh Masyarakat. Saya bersama team mengantar BK hingga ke pintu KA. Tiba-tiba di sana ada Tuan A.Hasan bersalaman dengan BK dan kemudian dengan Maulana Malik Aziz. BK lama sekali menjabat tangannya Maulana Malik. Semua mata menuju Maulana. Kemudian saya dan kawan-kawan juga ada di sana. Tiba-tiba BK melihat saya dan kemudian beliau menjulurkan tangannya mengusap-usap kepala saya. BK berangkat ke Jakarta.Saya dan Maulana sempat mengobrol sebentar sebelum berpisah. Di kejauhan, A. Hasan dengan jalan yang agak pincang-pincang, pulang sendirian setelah sekali menyempatkan menoleh kepada kami berdua. (*)

--
Saya kutip dari Catatan-Catatan "30 TAHUN DALAM BAHTERA," Di bawa judul "RADEN GUMIWA PEWARIS KERAJAAN GALUH MASUK AHMADIYAH". Kumpulan catatan dan naskah Padepokan Sukolangit, Cimanuk, Pandeglang, Banten.*** (Catatan dari Putra Setia, Ibu Netty Martakoesoemah, kini menetap di Kompleks Perwira Polri, Palmerah, Jakarta Barat. Kini, beliau adalah isteri Maulana Zafrullah Nazir Mbsy. Maulana Zafrullah adalah mantan Muballigh Ahmadiyah Wilayah Banten dan kini sebagai Dosen Jamia Ahmadiyah, Parung, Bogor, Jawa barat).***

22 Agustus 2007

Juru Bicara Hizbut Tahrir di Permata Hijau

Sudah lama saya mengikuti tulisan-tulisan Muhammad Ismail Yusanto (MIY) Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia di media massa, baik di Suratkabar-suratkabar Ibukota maupun di media-media Hizbut Tahrir (HT), berikut web dan milis-milis resmi HTI, termasuk dari Majalah Al Wa’i ,“corong” HT di Indonesia.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0502/26/opini/1581893.htm
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/08/opini/1602695.htm

Undangan Pengajian Wahdatul Ummah (PWU) yang dipimpin K.H. Dr. Agus Miftah (GM) pada 15.08.07 yang akan menghadirkan MIY di PWU Jumat malam, 17 Agustus lalu, rasanya sangat istimewa bagi saya. Kenapa? Pertama, karena inilah kelompok saudara muslim kita yang “akan mewujudkan” Khalifah dan sistem kekhalifahan untuk mengatasi problema dunia. Suatu yang krusial, mengingat apa “obsesi” Kelompok Saudara muslim kita ini, sudah lebih satu abad, dengan Karunia Ilahi, terwujud di dalam kehidupan Jemaat Ahmadiyah. Namun agaknya, subtansi kehilafahan yang difahami Ahmadiyah tidak (belum) sama yang difahami oleh HT. Yang kedua, karena HTI pekan lalu baru saja melangsungkan hajatan internasionalnya di Istora Senayan Jakarta yang menghadirkan sekitar 90 ribu ummat, termasuk undangan dari berbagai negara.

Yang menarik lainnya bagi saya adalah dampak hajatan internasional itu. Hampir semua negara muslim dari Timur Tengah mengirim nota protes ke Pemerintah RI yang telah memfasilitasi hajatan itu. Bahkan Negara-negara G7 pun tak ketinggalan ikut memprotes. Bahkan, konon, dari BIN ikut dibikin gerah. Sedahsyat itukah?

Saya dari Pandeglang, Banten sampai di PWU menjelang adzan magrib setelah menelusuri rel-rel K.A. yang tidak pernah tidak melelahkan. Di arena pengajian itu, saya yang pertama sampai. Maka sholatlah saya sebatangkara kemudian duduk-duduk di bangku pojok taman. Satu persatu tamu berdatangan. Ada dari IIQ (Institut Ilmu Alquran) Pasar Jumat Jakarta, Kelompok Pengajian Almunawwaroh, kalangan ibu-ibu dari Kalideres. Ada beberapa mantan aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia) yang sudah mulai sepuh juga. Dari Jemaat Ahmadiyah hadir Nono Kukuh Sujano, Hadi Wahyudi S.E., Dr. Soekamana Soma (Kharijiah PB Ahmadiyah), Kamal Emong, keempat beliau ini dari Ahmadi Bogor. Ada generasi muda, khuddamul Ahmadiyah, Rahmat Ali dan Firdaus Mubarik dan seorang Lajnah, Ny. Desi Deviasi Widuri yang juga adalah Wakil Sekjen II Front Persatuan Nasional (FPN). FPN inilah penyelenggara pengajian Wahdatul Ummah ini.

Sekitar 30 orang yang mengikuti pengajian kali ini. Pangajian yang menghadirkan segala lapisan umat dari berbagai golongan Islam baik yang moderat maupun yang aliran “keras”. Baik dari Kalangan Nasrani, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu dan unsur-unsur Partai Politik Nasionalis dan Kebangsaan. Termasuk pula berbagai aliran kepercayaan. Menjelang pukul 20.00 WIB, keluar Dr. K.H. Agus Miftah dengan busana ala Wali Songo lengkap dengan sorban putih. Beliau inilah, yang seperti biasa, nantinya membawakan makalahnya sekitar 4 halaman folio kemudian disusul pembicara tamu sesuai dengan profesi dan minat topik pilihan pembicara tamu. Baru dibuka sesi diskusi. Kalau topiknya biasa-biasa saja, diskusi biasanya sampai pukul 22.30 Tapi kalau topiknya serius yang diikuti banyak pakar, bisanya hingga pukul 00.00 atau lewat.

Tepat pukul 20.05 datanglah pembicara tamu, Ismail Suyanto bersama nyonya. Masih tampak aura kegembiraannya setelah sukses menyelenggarakan hajatan internasional di Senayan.


Agama Kemarahan

Hizbut Tahrir (Kalau diindonesiakan, artinya kurang lebih, Partai Merdeka), berkeinginan untuk menjadikan Syariah dan Khilafah sebagai problem solving dari kegagalan pemerintahan sekuler di negara-negara muslim, tidak disertai dengan cetak biru yang implementatif. Sifatnya dogmatis, utopis dan lebih bersifat idealisme spekulatif yang hanya keras dalam anti Barat, tapi tidak solutif. Khilafah tidak bersifat konformitas dognmatis tetapi harus sepenuhnya rasional-praksis, mewakili semua alternative empiric yang mampu memberikan solusi. Tanpa itu maka syariah dan khilafah akan membawa petaka baru. Setidaknya, khilafah yang dipresepsikan oleh Hizbut Tahrir. Harus dicatat bawa Rasulullah saw. tidak menjadikan masalah kepemimpinan (khilafah) sebagai ritual yang bersifat ortopraksi, namun suatu kesepakatan syuro (demokratis) yang dinamis, prosesnya melalui kontak sosial (aqad mu’ahadah al-ijtima’iyyah) seperti membentukan negara kota Madinah, yang bahkan lebih mendekati bentuk sekuler daripada teokratik.

Jika yang dimaksud syari’ah dan khilafah adalah semata-mata pemerintahan agama yang teokratik-dogmatis, ini akan sangat berbahaya, karena akan menimbulkan konflik dan perpecahan dan antiklimaks nihilisme seperti yang dialami Syaikh Nursi di Turki. Tetapi, jika syariah dan khilafah berupa solusi rasional dengan agregat ekonomi, politik dan social budaya, terutama nilai-nilai kebangsaan, maka kami percaya terdapat harapan di dalamnya. Khilafah ala minhaj nubuwah bukan dogma yang harus dibaca harfiah, tetapi azaz dan nilai-nilai yang penerapannya harus konteks dengan problematik dan tuntutan zaman. Jika akidah dan ubudiyah dianjurkan bersifat salaf (ortodoks), maka ijtimaiyyah lebih dianjurkan bersifat jaded (moderen). Dalam moderenitas yang tauhidiyah, ada sisi dogmatis yang harus digali di masa silam tetapi yang terbanyak sisi rasional yang harus digali di masa kini dan masa depan.

Kita tidak memerlukan sekulerisasi, karena agama Islam tidak pernah menjadi hambatan bagi kemajuan social, bahkan sebaliknya menjadi faktor emansipasi sosial determinan. Yang diperlukan adalah pemaham umat yang lebih baik, agar dapa membentuk psyche ke arah yang lebih kreatif. Kita memerlukan suatu metode dakwah yang dapat memberikan psycho-cognitive yang mampu mengubah struktur schemata kepada bentuk konstitusi jiwa baru yang lebih kreatif. Modal personality kaum muslimin yang dogmatios utopis seperti orang-orang Kristen Mesianik itu harus diubah menjadi basic personality structure yang divergen, kreatif dan progresif. Maka sifat ketauhidan akan berubah menjadi energi dinamik yang akan mampu membangun kembali peradaban dunia baru yang islami. Lengkapnya Masyarakat dan Negara Pancasila yang Islami. Sejauh ini konsep syariah dan khilafah yang dipresisikan oleh Sauadara-Saudara sesama muslim kita, Hizbut Tahrir, termasuk di Indonesia lebih tampak sebagai agama kemarahan. Setidaknya pokok-pokok pikiran inilah yang sering kita baca dalam silang pendapat antara pemikir-pemikir di luar Hizbut Tahrir dalam mengkritisi HT. Termasuk Gus Miftah kali ini.

“Agama Kemarahan?” Inilah komentar Mohammad Ismail Yusanto (MIY) ketika tiba gilirannya membawakan pokok-pokok pikirannya seputar HTI sekaligus memberikan penjelasan banyak hal dalam keberatan-keberatan GM atas HTI.

“Mungkin lebih dari sekedar gairat keagamaan. Bukanlah kemarahan,” katanya dengan emosi yang tertahan disertai sedikit geram, tapi MIY juga ketawa. Peserta juga ketawa. Kemudian MIY juga mengatakan, tidak benar kalau HTI dikatakan tidak punya cetak biru.

“Punya, tapi tidak diketahui banyak orang. Beda arti dari ‘tidak punya’ dan ‘tidak diketahui’. Perlu dialog dan kami siap berdialog dengan semua pihak,” katanya dengan nada yang sudah mulai meninggi.

“Kecuali Ahmadiyah!” tiba-tiba seorang menyela pembicaan MIY. Semua orang menoleh ke sumber suara yang berada persis di samping kiri MIY. Suara Dr. Soekmana Soma yang merupakan Sekretaris Umur Kharijiah PB, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Ahmadiyah Indonesia dan salahsatu Ketua FPN.

“Soal Ahmadiyah, saya tegas. Saya setuju dengan Menteri Agama RI Maftuh Basuni agar Ahmadiyah kembali kepada Islam. Jangan ada kenabian baru. Kalau-toh mau tetap dengan pendapat itu, yaa-silahkan bikin Agama Baru,” sambil menoleh ke Dr. Soma, MIY menjelaskan pendapatnya ini.

Panjang lebar kemudian MIY menjelaskan visi dan misi HTI di Indonessia. Ia lebih banyak menyoroti berbagai hal yang ia sebut sebagai salah urus bangsa yang karena tak berdasarkan syariah. MIY juga mempertanyakan kalau HTI “bukan apa-apa”, mengapa Barat dan banyak negara mulai mewaspadainya.

“Kalau sudah ada kelompok yang punya Khalifah yaa-silahkan bereskan itu Irak,” kata MIY sambil menoleh ke Soma setelah Soma memaparkan konsep Khalifah versi Ahmadiyah yang dimulai dengan Surah Annur (24:56) “…yastakhlifannahum fil-ardhi—DIA pasti akan menjadikan mereka itu khalifah-khalifah di muka bumi ini.”

“Ahmadiyah tidak akan memerangi dan berperang. Tugas Ahmadiyah adalah memanggil manusia termasuk Bangsa-bangsa Barat agar memeluk Islam. Bila mereka memeluk Islam tentu akan jadi Saudara semua dan akan hilang persoalan-perswoalan seperti yang dihadapi ummat Islam dewasa ini,” demikian Soma.

Ummat dengan 200 juta pengikut

Lain lagi dengan cara Gus Miftah menjelaskan “pembelaannya” terhadap Ahmadiyah dengan logika guyon. Sambil menoleh ke MIY yang berada di sebelah kirinya (MIY diapit oleh Soma dan GM). GM mengemukakan, Ahmadiyah itu adalah organisasi Islam terbesar di dunia dengan pengikut 200 juta ummat yang berasal dari berbagai agama dan kepercaaan dan tersebar di sekitar 200 negara. “Jadi wajar saja jika dipimpin oleh seorang Nabi. Yaa-‘nggak mungkinlah ummat sebanyak itu hanya dipimpin oleh kyai-kyai biasa,” ungkap Gus Miftah yang disambut gerr peserta.

“Saya juga kalau punya ummat sebanyak dan sebesar itu, berani juga mengaku nabi,” tambahnya dan geeer lagi peserta pengajian. Pukul 23.15 acara tutup dengan foto-foto bersama pembicara dengan peserta pengajian. MIY dan Soma beramah-tamah. Namun Soma kemudian berbisik kepada saya, “Salaman-nya MIY belum ikhlas.” Sambil ketawa-ketawa kecil, Soma pergi dan pulang ke Bogor.

Dari kawan-kawan Ahmadi, minus Soma, masih bergerombol-gerombol membicarakan banyak hal dengan GM yang tak sempat diungkap di forum termasuk langkah-langkah FPN terkini. Termasuk membahas beritanya Mas Widji (Ketua Ahmadiyah Malang Jatim) yang juga salah satu Ketua FPN Jawa Timur yang akan maju menjadi Kandidat Balon (Bakal Calon) Gubernur Jatim dari jalur independent. Mas Wiji sudah mengantongi suara dari jalur guru-guru (PGRI) Jatim (?), termasuk warga FPN Jatim. Dosen salah satu perguruan tinggi di Malang ini dinilai oleh GM sebagai Ahmadi yang “bernyali” kuat. Kemunculan Wiji ini menurut GM adalah titik bangkitnya sayap politisi Ahmadiyah mutakhir.

GM mengingatkan, betapa banyaknya politisi, cendekiawan, diplomat, rohaniawan dan birokrat Ahmadi menjelang dan awal kemerdekaan RI hingga di era Bung Karno. Tapi kiprah dan gregetnya hilang senyap di era Orde Baru. Suatu kerugian Ahmadiyah yang amat besar yang kerugian itulah kemudian berdampak pada pengucilan Ahmadiyah di panggung Kebangsaan beberapa tahun terakhir ini. Perlu revitalisasi para politisi, cendekiawan, rohaniawan, ilmuan dan birokrasi dan diplomat Ahmadiyah di era kini. Ahmadiyah perlu merumuskan kembali dan konsep-konsep baru dan peranannya dalam bidang politik untuk turut serta membangun Negara Kebangsan kita.

Dalam studi-studi yang mendalam beberapa waktu terakhir ini, banyak organisasi-organisasi internasional yang berada di Indonmesia ini yang warganya mengalami abrasi nasionalisme karena terlalu asyik dengan dirinya sendiri dan sudah nyaman dengan kehidupan komunitasnya sehingga tidak peduli pada kehidupan politik yang lebih menyeluruh. GM berharap, semoga para Ahmadi ini di Indonesia tidak mengalami abrasi rasa nasionalismenya.

GM mengatakan juga, banyak oraganisasi non politik di Indonesia termasuk Muhammadiyah, NU dan lain-lain termasuk Ahmadiyah. Tapi tidak berarti berdiam diri untuk tidak mengasuh warga-warganya untuk berpolitik bagi kepentingan Bangsa dan juga untuk kelompok masing-masing.

Banyak Undang-undang akan lahir di waktu-waktu mendatang dan besar kemungkinan akan banyak undang-undang yang akan merugikan kehidupan kelompok-kelompok minoritas seperti Ahmadiyah. Nah, kata GM, kalau politisi Ahmadiyah ada ditengah-tengah pembuat undang-undang itu kan bisa membela kepentingannya juga. Jangan nanti, kalau sudah ada undang-undang yang merugikannya, baru berteriak-teriak kepada Pemerintah dan kepada kelompok-kelompok lain untuk membantunya seperti beberapa tahun terakhir ini. Saatnyalah intitusi mengabil peranan yang jelas, akurat dan terprogram untuk melahirkan SDM-SDM Ahmadi yang handal termasuk membina politisi-politisi yang handal seperti Ahmadi-ahmadi di Eropa, Amerika dan di Afrika. Sudah bukan waktunya lagi membiakan SDM-SDM Ahmadi lahir, tumbuh dan berkembang sendiri-sendiri.

GM juga meminta Ahmadi-Ahmadi yang lain, terutama yang ada di FPN untuk maju dalam pilkada-pilkada di berbagai tempat. Baik di tingkat Bupati dan Gubernur. GM bersyukur bahwa ide calon independen pertama digulirkan di Pengajian Wahdatul Ummah beberapa bulan lalu. Dan kini, Mahkamah Konstitusi telah mengesahkannya. GM akan ikut menyukseskan kampanye Mas Wiji di Jatim kalau sudah waktunya tiba. GM minta ada Anggota FPN yang Ahmadi yang masuk Pilkada dari jalur indepenmden di Jawa Barat yang tidak lama lagi juga akan memasuki waktu pilkada gubernur.

“Niat tulus orang-orang Ahmadi, berahlak mulia, bersih untuk tidak korup, perkerja keras, adalah modal terkuat yang kini dibutuhkan Bangsa. Sudah saatnya orang-orang Ahmadi tampil membenahi bangsanya, apapun resikonya. Bukankah mereka, orang-orang Ahmadi ini, mengklaim diri sebagai kelompok yang akan mewujudkan kemakmuran bangsa ini seperti yang dinubuatkan orang-orangtua dahulu dalam personifikasi Ratu Adil? Bukankah Anshar Ahmadiyah dalam ikrarnya ‘Selalu siap sedia berkorban untuk Nusa dan Bangsa dimana mereka berada.” GM mengingatkan, bahwa ikrar ini pernah ia dengar di Gondrong waktu menghadiri Ijtima Ansharullah Ahmadiyah setahun lalu.

GM masih berbicara banyak dan kawan-kawan Ahmadi ini masih terpaku. Kemudian terhenyak oleh dering ponselnya GM. “Wah, ini dari Ismail,” kata GM. GM dengan MIY bicara sekitar satu menit yang kemudian diperoleh informasi bahwa mobil sedan Honda Jazz milik MIY mogok. Radiatornya pecah menabrak membatas jalur di jalan samping RS Pondok Indah, Jakarta Selatan. Hanya butuh waktu 10 menit dari rumah GM ke lokasi kecelakaan.

Terus terang saya sedih atas musibah yang menimpa MIY. Nono Kukuh, Ali dan Daus saling berpandangan. Langkah apa yang akan kita ambil. GM dan MIY sepakat mobil yang naas itu ditarik ke Permata Hijau. MIY tinggal di Bogor, terpikir oleh kawan-kawan, biar Hadi dan Nono Kukuh yang mengantar nanti setelah mobilnya MIY di tarik. Mobil MIY tadinya akan diderek oleh mobil Hadi, tapi GM bilang biar Izusu Phanter anaknya saja. GM sendiri yang membawa tali khusus derek dari gudang belakang bersama putranya. Sambil tertawa kepada kami dan setengah guyon GM mengatakan “Wah, MIY ini ‘kualat’ kepada Ahmadiyah-nih. Waktu tadi, MIY menyudutkan Ahmadiyah di forum, saya sudah ada firasat bakal akan ada apa-apa, nih?!” Kami tidak ada komentar seperti itu. Kita hanya sedih, kenapa hal itu harus terjadi?

Maka ditariklah Honda naas itu dari Pondok Indah. Di mobil Phanter ada Ali, Firdaus dan Hanif Miftah sedang di mobil yang naas, Nono Kukuh yang menyetirnya, sedang saya di samping. GM menyenangi sikap tenang kawan-kawan Ahmadi ini dan tidak terprovokasi atas pernyataan-pernyataan MIY di forum. “Keluhuran ahlak orang-orang Ahmadi ini yang dari dulu saya kagumi. Inilah salah satu keberhasilan Pendiri Ahmadiyah mengangkat murid-muridnya pada tingkat emansipasi ahlak dari tingkat bawah, menengah dan menuju puncak ahlak terbaik. Ahlak kekasih-kekasih Tuhan,” kata GM mengakhiri pertemuan kita malam itu.

Ketika Sabtu 18 Agustus, kawan-kawan menengok Honda Jazz MIY. Masih dalam proses perbaikan. GM bercerita, bahwa MIY dari Yogya kontak dengan GM siang hari. MIY berterimakasih atas kebaikan orang-orang GM dalam mengantar kendaraanya ke Permata Hijau sedang MIY naik taksi ke Bogor bersama isterinya. “Wah, itu bukan orang-orang saya. Itu sahabat-sahabat Ahmadiyah kita, anggota pengajian di sini,” kata GM. “Oh, yah? Terima kasih,” hanya itu ungkap MIY dari Yogya. (*) [Banten, 21 Agustus 2007 M/7 Sya'ban 1428 H]

-------oooOooo-------

21 Agustus 2007

JEJAK LANGIT

Blog ini berjudul: JEJAK LANGIT.

07 Agustus 2007

Kemesraan Yang Terkoyak

“KEMESRAAN itu sudah sudah lama terkoyak. Kita terlena, tak bisa merawat persahabatan.” Setidaknya inilah jawaban seorang Ketua Cabang Ahmadiyah di Ujung Kulon, Banten, menjawab pertanyaan kritis seorang Khadim Ibukota Jakarta yang berkunjung ke kawasan itu beberapa waktu lalu sekaligus berdikusi tentang banyak hal terutama soal-soal sejarah bangsa yang terkait dengan sejarah jemaat di panggung kebangsaan. Topik diskusi adalah: Ahmadiyah Indonesia dan Departemen Agama (Depag) RI di dasawarsa awal kemerdekaan.

Terungkap dalam diskusi betapa mesranya kedua institusi di masa itu yang semuanya diawali oleh kebutuhan banyak tokoh nasional tentang literatur Ahmadiyah yang mencerahkan umat dan para pemimpinnya. Persahabatan yang mesra itu semakin terlihat ketika di awal tahun 1950-an, Depag sendiri yang menuntun dan memberikan banyak saran dan petunjuk kepada JAI (PB Ahmadiyah Indonesia) dalam penyusunan AD dan ART-nya. Penyusunan ini disetujui langsung oleh Menteri Agama (Menag) RI di masa itu, K.H. Abdul Wahid Hasyim, (Ayahanda Gus Dur—Red.). Dari persetujuan beliau inilah, baru disampaikan lagi ke Menteri Kehakiman (Menkeh) RI. Yang kemudian kita kenal dengan Keputusan Menkeh Nomor J.A./5/23/13 tanggal 13 Maret 1953 itu.

Di awal Orde Baru, kemesraan itu makin mencapai puncak ketika Prof. Dr. Mukti Ali menjadi Menag RI dan Bachrum Rangkuti menjadi Sekjennya. Seperti dalam catatan Sejarah Hidup H.S. Yahya Pontoh Sahib rahmatullah ‘alaih, (catatan masih dalam bentuk naskah—Red.), Mukti Ali lama menjadi anak kost dan tinggal di pavilium Pontoh Sahib ketika masih kuliah di anak benua India. Pontoh Sahib seorang Diplomat RI di masa itu dan Sahabi dari Muslih Mau’ud r.a. Konon, setiap harinya, Mukti Ali Sahib melahap buku-buku Jemaat. Beliau sangat kuat belajar dan merokok.

Tentang Bachrum Rangkuti Sahib, tadinya beliau seorang Ahmadi dan salah seorang murid tercerdas Hadhrat Maulana Rahmat Ali HAOT.

Kedekatan dan kemesraan JAI – Depag RI tercermin juga dalam kepanitiaan Penyusunan Tafsir Alquran Depag yang “menerjemahkan mentah-mentah” Pengantar Mempelajari Alquran karya Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad Khalifatul Masih II r.a.. “Almarhum” Majalah Ahmadiyah Sinar Islam tak sepi memuat kemesraan ini, terutama di era tahun 50 hingga 70-an.

Kini 30 tahun berlalu, kemesraan itu terkoyak. Kita saling terasing dan saling mengasingkan diri. Padahal, kita masih sesama anak bangsa. Bukan hanya itu, bahkan—Menag kita sekarang (Muhammad Maftuh Basuni, 64 tahun) berkali-kali menginginkan Ahmadiyah hengkang dari negeri yang juga sama-sama kita bangun dengan penuh pengorbanan. Tongkat estafet kemesraan itu, tak terasa jatuh dari tangan dan: Hilang! Suatu generasi yang harus bertanggungjawab! Dan, generasi kini yang harus bekerja keras untuk menjahit kemesraan yang terkoyak itu. Dan rasanya, bukan hanya di satu sektor ini. Tapi hampir di semua lini. Wallâhu a’lâmu bi'sh-shawâb.[] (AADP/06082007)***